BANJARMASIN, dnusantarapost.com – Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Senin (16/3/2026), sebagai langkah cepat menyikapi inflasi yang menempati posisi ketiga tertinggi secara nasional.
Muhidin menyebut inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,86 persen (month-to-month), dengan inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 5,97 persen atau melampaui angka nasional sebesar 4,76 persen. “Kita sempat dihubungi Pak Tito, ini bagaimana Kalsel, cepat rapatkan,” ujarnya.
Menurut gubernur, lonjakan inflasi dipicu kenaikan tarif listrik, harga emas perhiasan, beras, daging, serta telur ayam ras. Karena itu, Pemprov Kalsel melalui TPID memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga pelaksanaan pasar murah dan kerja sama antardaerah.
Ia juga mendorong pelaksanaan pasar murah secara masif guna membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau. Upaya ini dinilai penting menjelang hari besar keagamaan untuk menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, Perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel Mukhamad Mukhanif memaparkan sejumlah faktor yang perlu diwaspadai, antara lain kondisi global yang memicu kenaikan harga komoditas impor dan energi, dampak musim hujan terhadap komoditas hortikultura, serta potensi kenaikan harga akibat pencairan THR lebih awal.
Dalam rapat tersebut, Muhidin juga menyoroti tiga daerah dengan inflasi tinggi, yakni Hulu Sungai Tengah, Tanah Laut, dan Kotabaru. Ia meminta BPS terus menyampaikan laporan perkembangan inflasi secara berkala agar langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat. “Jadi kami minta penekanannya,” kata Muhidin.





