BANJABARU, dnusantarapost.com– Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, gaya hidup sehat kini menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat urban.
Aktivitas seperti lari, gym, yoga, hingga pilates tidak lagi semata kebutuhan jasmani, tetapi telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup yang dianggap modern dan keren, terutama di kalangan generasi muda.
Namun, menurut Dosen Antropologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Alfisyah, tren hidup sehat ini tidak bisa dilepaskan dari latar budaya, usia, dan motivasi sosial masing-masing individu.
Perspektif antropologi—ilmu yang mempelajari manusia, kebudayaan, dan perilaku sosialnya—memandang pola hidup sehat sebagai bagian dari konstruksi sosial yang dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya kesadaran medis.
“Jika dilihat dari kelompok usia, para lansia biasanya mulai aktif berolahraga karena kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Itu muncul karena mereka sudah mulai merasakan dampak dari usia,” ujarnya saat diwawancarai pada Minggu (6/7/2025)
Berbeda halnya dengan kalangan muda. Menurut Alfisyah, banyak dari mereka memilih aktivitas olahraga bukan semata-mata karena ingin sehat, tetapi karena tren dan tekanan sosial untuk menunjukkan bahwa individu ini tampil sesuai standar gaya hidup saat ini.
“Anak-anak muda hari ini banyak yang ikut olahraga seperti gym atau lari bukan karena sadar pentingnya kesehatan, tapi karena tidak ingin ketinggalan zaman atau istilahnya sekarang, FOMO (Fear of Missing Out),” jelasnya.
Ia menambahkan, gaya hidup sehat memang baik dan harus didukung, namun jika dilakukan hanya karena mengikuti arus tren, maka kemungkinan besar tidak akan berlangsung lama.
“Kalau tujuannya hanya ikut-ikutan, itu biasanya tidak konsisten. Begitu tren berubah, aktivitasnya pun ditinggalkan,” ucapnya.
Fenomena ini juga sejalan dengan beberapa studi yang menunjukkan bagaimana perubahan sosial memengaruhi gaya hidup sehat.
Dalam jurnal Global Health Promotion (2022), disebutkan bahwa gaya hidup sehat kini bukan hanya terkait kesehatan fisik, tetapi juga status sosial dan simbol gaya hidup modern.
Sementara itu, penelitian dalam Journal of Health Psychology (2023) mencatat bahwa motivasi terbesar generasi Z dalam memulai rutinitas olahraga adalah keinginan untuk tampil ideal secara fisik dan agar diterima dalam lingkungan sosial mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap kesehatan tidak selalu murni berasal dari kesadaran medis, melainkan juga dari konstruksi sosial yang terus berkembang.
Meski begitu, Alfisyah tidak menampik bahwa tren ini tetap membawa pengaruh positif. Setidaknya, meningkatnya minat terhadap aktivitas fisik dan kesadaran akan pola makan sehat telah membuka ruang bagi terciptanya masyarakat yang lebih peduli terhadap kualitas hidup.
“Gaya hidup sehat, meskipun diawali dari tren, bisa menjadi pintu masuk untuk kesadaran jangka panjang. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan motivasi itu agar tidak cepat padam,” tuturnya.
Ia juga menekankan perlunya pendekatan yang lebih personal dan edukatif dalam kampanye gaya hidup sehat, agar masyarakat tidak hanya mengikuti, tetapi memahami alasan mengapa mereka harus melakukannya. (nurul octaviani)





