Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari di Banjarbaru, Perkokoh Kebinekaan dan Gali Nilai Kepahlawanan

BANJARBARU, dnusantarapost.com – Upaya memperkenalkan warisan sejarah dan pemikiran tokoh bangsa terus dilakukan melalui berbagai ruang edukasi dan publikasi. Salah satunya melalui kegiatan Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari dalam rangka Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari bertema “Perkokoh Kebinekaan, Menginspirasi Zaman”.

Kegiatan tersebut digelar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kamis (5/11/2026), dengan menghadirkan sejumlah akademisi dan pemerhati sejarah untuk membahas perjalanan hidup, pemikiran, serta kontribusi Syekh Yusuf Al-Makassari dalam perkembangan Islam dan perjuangan bangsa.

Bacaan Lainnya

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Selatan, Manggar Sari Ayuati, mengatakan Temu Narasi menjadi ruang diskusi sekaligus upaya memperkuat publikasi mengenai tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Menurutnya, publikasi mengenai kekayaan budaya bangsa, termasuk karya dan pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari, masih perlu diperluas agar lebih dikenal masyarakat.

“Di tengah arus globalisasi dan derasnya pertukaran informasi, publikasi mengenai kekayaan budaya bangsa, termasuk karya dan pemikiran Syekh Yusuf Al-Makassari, masih perlu diperluas agar dapat tersampaikan secara lebih sistematis dan menarik kepada masyarakat,” ujarnya dalam sambutan yang dibacakan pada kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan dalam memperkenalkan kebudayaan adalah keterbatasan akses terhadap data dan informasi primer sebagai bahan pemberitaan. Karena itu, peran media massa dinilai penting dalam menyampaikan informasi kebudayaan secara aktual, menarik, dan mudah diakses.

Menggali Semangat Perjuangan Ulama Sufisme

Manggar Sari Ayuati juga menyoroti ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari yang dikenal sebagai ulama, cendekiawan, sekaligus pejuang antikolonial. Pengaruh perjuangannya bahkan melintasi berbagai wilayah, mulai dari Nusantara hingga Afrika Selatan.

Atas jasa-jasanya, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1995. Kiprahnya juga mendapat pengakuan di Afrika Selatan karena turut menginspirasi perjuangan melawan politik apartheid.

“Warisan intelektual Syekh Yusuf berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan, perjuangan, keilmuan, perdamaian, toleransi, keadilan, serta spiritualitas yang inklusif. Nilai-nilai tersebut perlu kita teladani dan wariskan kepada generasi mendatang,” katanya.

Ia menegaskan, pengasingan yang dialami Syekh Yusuf Al-Makassari tidak membuat ulama sekaligus tokoh sufisme tersebut kehilangan arah perjuangan. Sebaliknya, pengalaman itu justru memperkuat nilai kesabaran, kedalaman pemikiran, dan kemampuan refleksi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi teladan bahwa keterbatasan dan situasi sulit tidak harus melemahkan prinsip maupun semangat seseorang dalam memperjuangkan keyakinan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia berharap kegiatan Temu Narasi tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga mendorong lahirnya publikasi yang mampu mengangkat kekayaan sejarah dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat luas.

Ajak Insan Pers Gali Nilai Semangat Kepahlawanan Ulama di Indonesia

Ketua PWI Kalimantan Selatan, Zainal Helmie mengajak insan pers memanfaatkan kegiatan Temu Narasi untuk menggali dan mengangkat kembali kisah perjuangan tokoh-tokoh ulama di Nusantara.

Menurutnya, masih banyak sosok ulama daerah yang memiliki kontribusi besar, tetapi belum mendapat perhatian luas.

Ia secara khusus menitipkan nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari agar lebih banyak diangkat melalui karya jurnalistik. Ulama besar asal Kalimantan Selatan tersebut dikenal melalui karya-karya keagamaannya yang dipelajari di berbagai pondok pesantren, bahkan hingga mancanegara.

“Beliau banyak sekali menulis buku dan sangat terkenal. Karya-karyanya digunakan oleh pondok-pondok pesantren, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia,” ungkap Zainal.

Ia berharap para wartawan dapat menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk menggali sejarah, pemikiran, serta nilai kepahlawanan para ulama agar semakin dikenal masyarakat.

“Ketua Umum PWI berharap kegiatan ini dimanfaatkan, khususnya oleh teman-teman wartawan, untuk menggali kepahlawanan Syekh Arsyad Al-Banjari,” ujarnya.

Zainal Helmie juga mengapresiasi Kementerian Kebudayaan yang telah melibatkan insan pers dalam kegiatan berskala nasional tersebut. Ia berharap kerja sama serupa dapat terus berlanjut, terutama dalam mengedukasi masyarakat mengenai sejarah dan kearifan lokal.

Banjarbaru Jadi Tuan Rumah Temu Narasi

Dari Pemerintah Kota Banjarbaru, Wali Kota Hj Erna Lisa Halaby melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Pembangunan, Abdussamad, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Banjarbaru sebagai lokasi kegiatan.

“Suatu kehormatan bagi kami, Kota Banjarbaru dipilih menjadi tuan rumah Temu Narasi yang menggali sejarah dan nilai-nilai luhur para ulama dan pahlawan kita,” ucapnya.

Pemilihan Museum Lambung Mangkurat dinilai menjadi kesempatan untuk menghidupkan ruang kebudayaan sebagai tempat belajar, mengenal sejarah, sekaligus menggali keteladanan tokoh-tokoh bangsa.

​”Mari kita jadikan kegiatan ini untuk mengenal, menghargai, dan menghidupkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur kita, ditanamkan kepada generasi muda bahwa beragama dan berbudaya adalah kaya yang harus dijaga,” tutup Abdussamad. (nurul octaviani)

Pos terkait