BANJARBARU, dnusantarapost.com – Karang Taruna Kabupaten Banjar menggelar nonton bersama (nobar) film dokumenter Pesta Babi, Kamis (14/5/2026) malam di Banjarbaru. Antusiasme peserta di luar perkiraan panitia hingga jumlah penonton membludak.
Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Banjar, Usamah Yandi, mengatakan kegiatan awalnya hanya direncanakan untuk internal organisasi dengan target sekitar 30 peserta. Namun, setelah poster kegiatan dipublikasikan sesuai ketentuan penyelenggaraan nobar, respons masyarakat justru meningkat tajam.
“Awalnya hanya untuk internal organisasi sekitar 30 orang saja. Setelah poster dipublikasikan sesuai regulasi, antusiasme masyarakat ternyata sangat tinggi,” ujarnya.
Panitia mencatat sebanyak 119 peserta telah terdaftar. Namun saat pemutaran film berlangsung, penonton terus berdatangan hingga jumlah keseluruhan diperkirakan menembus 150 orang.
Bahkan, konsumsi yang disediakan berupa 150 cangkir kopi turut habis selama kegiatan berlangsung.
Karena jumlah peserta membludak, panitia membagi lokasi penayangan ke dua area, yakni ruangan indoor dan outdoor. Mayoritas peserta yang hadir didominasi kalangan kawula muda.
Film yang ditayangkan merupakan dokumenter investigasi jurnalis berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026) produksi Watchdoc dan Ekspedisi Indonesia Baru. Film tersebut disutradarai jurnalis sekaligus pembuat film dokumenter Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Dale.
Dokumenter tersebut mengangkat dampak deforestasi besar-besaran di Papua Selatan akibat pembukaan perkebunan sawit dan tebu untuk bioetanol terhadap kehidupan masyarakat adat.

Usamah dan rekannya mengaku memiliki perasaan campur aduk usai menyaksikan film tersebut.
Menurutnya, Karang Taruna sengaja menggelar nobar sebagai upaya memahami langsung isu yang diangkat dalam dokumenter, khususnya terkait kerusakan hutan Papua yang dikaitkan dengan proyek strategis nasional (PSN).
“Motivasi kami menggelar nobar ini karena ingin mengetahui isi film yang menampilkan deforestasi hutan Papua akibat proyek strategis nasional,” katanya.
Ia menilai film tersebut juga memperlihatkan bentuk perlawanan masyarakat adat Papua terhadap kerusakan lingkungan yang semakin masif.
“Kita melihat secara teatrikal masyarakat Papua melakukan sejenis perlawanan terhadap kerusakan alam Papua yang semakin masif,” ujarnya.
Tak hanya menonton, kegiatan itu juga membuka ruang diskusi bagi peserta terkait upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan isu lingkungan hidup.
“Kita membuka ruang diskusi juga, bagaimana caranya tetap bisa mendukung proyek strategis pemerintah tanpa mengesampingkan isu-isu lingkungan hidup,” ucapnya.

Salah seorang peserta nobar asal Wamena, Papua, Toni, yang kini tinggal di Kalimantan Selatan turut membagikan pandangannya usai menyaksikan film tersebut. Ia mengaku ikut prihatin karena menurutnya isi dokumenter menampilkan gambaran yang dekat dengan kondisi yang terjadi di Papua.
“Saya ikut prihatin melihat film ini karena memang itulah yang terjadi di tanah Papua,” katanya.
Toni berharap film tersebut dapat membuka sudut pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.
“Harapannya melalui film yang kita tonton ini bisa memberikan pandangan kepada kita semua alasan kenapa masyarakat Papua bertindak seperti itu,” ujarnya.
Ia menilai film tersebut menghadirkan perspektif mengenai persoalan tanah adat, kehidupan masyarakat, hingga dampak lingkungan yang dikhawatirkan dapat muncul di masa mendatang.
Selain persoalan lingkungan, film tersebut juga mengangkat adat dan budaya Pesta Babi, tradisi masyarakat Papua yang disebut digelar dalam periode tertentu sebagai bentuk hubungan timbal balik dalam menjaga ekosistem alam yang menopang kehidupan masyarakat setempat.
Pembangunan dan pelestarian lingkungan idealnya berjalan beriringan. Ruang diskusi dan keberagaman sudut pandang penting agar isu lingkungan, masyarakat adat, dan pembangunan dapat dipahami secara lebih utuh. (nurul octaviani)





