MARTAPURA, dnusantarapost.com — Fenomena alam tak biasa menggegerkan warga Desa Indrasari, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Kamis (31/7) sore. Sebuah awan berbentuk corong tampak menukik dari langit sekitar pukul 17.03 Wita, memunculkan kekhawatiran akan terjadinya angin puting beliung.
Meski tidak sampai menyentuh tanah atau menimbulkan kerusakan, kemunculan corong langit itu menjadi peringatan penting terkait potensi cuaca ekstrem, bahkan di tengah musim kemarau.
Penjelasan Ahli Cuaca
Muhammad Arif Rahman, Analis Iklim di Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I BMKG Kalimantan Selatan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari proses terbentuknya angin puting beliung skala kecil.
“Ini bisa terjadi meski sedang kemarau. Justru cuaca panas ekstrem tanpa awan selama beberapa hari terakhir menjadi pemicunya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Banjarmasin, Jumat (1/8).
Arif menyebutkan, sore hari merupakan waktu yang rawan karena seluruh elemen pemicu badai lokal cenderung mencapai puncaknya, seperti panas permukaan tanah, kelembapan udara, dan pertemuan angin di atmosfer.
Faktor Pemicu
Lebih lanjut, Arif membeberkan sejumlah penyebab lain yang memperkuat kemungkinan terbentuknya cuaca ekstrem:
- Anomali suhu laut di selatan Kalimantan Selatan yang saat ini terpantau cukup tinggi, sehingga menyuplai uap air ke atmosfer.
- Dampak Siklon Tropis CO-MAY di Laut Filipina yang turut memengaruhi pola angin dan distribusi uap air di Kalimantan.
- Kondisi geografis lokal, seperti keberadaan lahan rawa di sekitar Martapura, yang meningkatkan kelembapan udara lapisan bawah.
“Ketika daratan panas, uap air banyak, dan ada pertemuan angin di ketinggian, itu adalah kombinasi ideal terbentuknya awan corong atau bahkan puting beliung,” jelasnya.
Waspada Cuaca Ekstrem di Kemarau
Menurut BMKG, kemunculan awan corong merupakan sinyal bahwa batas antara musim kemarau dan musim hujan semakin kabur akibat perubahan iklim global.
“Musim kemarau bukan berarti bebas dari cuaca ekstrem. Justru saat ini perlu kewaspadaan lebih tinggi karena kondisi atmosfer bisa berubah cepat,” pungkas Arif. (nurul octaviani)





