BANJARBARU, dnusantarapost.com – Korem 101/Antasari menyalurkan sebanyak 500 Alat Pelindung Diri (APD) bagi personel TNI dan relawan yang terlibat dalam penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan.
Penyerahan APD dilakukan Kasrem 101/Antasari Kolonel Inf Roy Fakhrul Rozi di Denzipur 8/GM, Senin (7/9/2026) pagi.
Roy mengatakan, bantuan tersebut merupakan dukungan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk menunjang keselamatan personel yang berada di lapangan, khususnya dalam penanganan Karhutla di wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru.
“APD ini kami distribusikan untuk mendukung penanganan Karhutla yang saat ini terjadi, khususnya di wilayah Banjar dan Banjarbaru,” ujar Roy.
Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas bagi seluruh personel maupun relawan yang berjibaku memadamkan api. Semangat untuk menuntaskan Karhutla, kata dia, tetap harus dibarengi dengan kewaspadaan terhadap risiko di lapangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan Kemhan atas dukungan APD ini. Kami berharap alat ini dapat menjaga keselamatan seluruh personel, baik TNI maupun relawan,” katanya.
Roy menjelaskan, setiap paket APD dilengkapi sejumlah perlengkapan, di antaranya helm, masker dengan pelindung oksigen, baju APD, serta sepatu boot.
Ia menyebut kualitas perlengkapan tersebut cukup baik dan dirancang untuk mendukung personel saat bekerja di tengah kondisi berisiko.
“Pesan kami, semangat boleh, karena semuanya memiliki keinginan yang sama agar bencana Karhutla ini segera selesai. Tetapi jangan lupa, keselamatan adalah yang paling utama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua EBR sekaligus perwakilan relawan, Sa’duddin, menyampaikan apresiasi atas bantuan APD tersebut.
Ia menyebut perlengkapan keselamatan sangat dibutuhkan para relawan karena ketersediaan APD di lapangan masih terbatas.
“Atas nama relawan se-Kabupaten Banjar dan Banjarbaru, kami mengucapkan terima kasih kepada Korem 101/Antasari dan Kemhan RI. APD ini sangat kami butuhkan karena kami masih kekurangan perlengkapan,” ujar Sa’duddin.
Sa’duddin juga mengingatkan para relawan agar tidak mengabaikan keselamatan selama menjalankan tugas. Terlebih, risiko dalam penanganan Karhutla cukup tinggi.
Ia menyinggung adanya relawan yang gugur saat menangani Karhutla di Kalimantan Tengah sebagai pengingat agar seluruh petugas lebih berhati-hati.
“Semangat tetap, tetapi keselamatan kerja harus diutamakan. Kita harus berhati-hati dalam penanganan Karhutla ini,” katanya.
Terkait sinergi di lapangan, Sa’duddin menyebut koordinasi antara TNI dan relawan hingga saat ini berjalan solid.
Menurutnya, komunikasi dan pembagian tugas menjadi kunci agar penanganan Karhutla dapat dilakukan secara efektif.
“TNI dan relawan sangat solid. Yang kami harapkan, kita saling berkoordinasi dan berbagi informasi. Misalnya terkait lokasi, kemudian pembagian tugas di lapangan,” pungkasnya. (nurul)





