Mengenang Rudy Ariffin: Dari Sungai Tabuk hingga Memimpin Banua

MARTAPURA, dnusantarapost.com – Kepergian H Rudy Ariffin, Minggu (6/9/2026), menutup perjalanan panjang seorang birokrat yang meniti karier dari pemerintahan tingkat kecamatan hingga dipercaya memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode.

Rudy Ariffin mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun di RS Amanah Banjarmasin sekitar pukul 11.00 Wita. Sore harinya, jenazah dibawa ke Masjid Agung Al-Karomah Martapura untuk disalatkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin, Banjarbaru.

Bagi masyarakat Kabupaten Banjar, Masjid Agung Al-Karomah bukan sekadar tempat persemayaman terakhir. Masjid bersejarah di Martapura tersebut menjadi salah satu jejak pembangunan Rudy Ariffin saat dipercaya memimpin Kabupaten Banjar.

Merintis Karier dari Sungai Tabuk

Rudy Ariffin merupakan putra Banua yang lahir di Banjarmasin, 17 Agustus 1952. Ia dikenal sebagai urang Barabai.

Pendidikan ditempuhnya mulai dari Sekolah Rakyat di Barabai, kemudian melanjutkan sekolah menengah di Banjarmasin hingga menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Banjarbaru.

Pendidikan formalnya berlanjut di Fakultas Sosial Politik Universitas Lambung Mangkurat, Jurusan Administrasi Negara. Pada 2002, ia menyelesaikan pendidikan pascasarjana jurusan manajemen.

Karier pemerintahan Rudy dimulai dari bawah. Pada 1979–1982, ia dipercaya sebagai Mantri Pamong Praja Kecamatan Sungai Tabuk.

Dari sana, perjalanan birokrasi Rudy terus berkembang. Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai dari lingkungan pendidikan dan pelatihan pemerintahan, Dinas Pendapatan Daerah, hingga Kepala Biro Keuangan Sekretariat Wilayah Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan.

Karier tersebut kemudian membawanya ke Kabupaten Banjar.

Rudy menjabat Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat II Banjar pada 1997–2000, sebelum kemudian dipercaya menjadi Bupati Banjar periode 2000–2005.

Jejak Pembangunan di Kabupaten Banjar

Selama memimpin Kabupaten Banjar, Rudy tidak hanya dikenal sebagai kepala daerah. Sejumlah pembangunan yang dilakukannya masih menjadi bagian dari wajah daerah hingga sekarang.

Salah satu yang paling menonjol adalah pemugaran Masjid Agung Al-Karomah Martapura.

Ketika kemudian dipercaya memimpin Kalimantan Selatan, Rudy juga berhasil menyelesaikan pembangunan siring Sungai Martapura yang sebelumnya cukup lama terkatung-katung.

Selain pembangunan fisik, kedekatan dengan masyarakat dan ulama menjadi warna tersendiri dalam perjalanan Rudy di Banjar.

Ia dikenal sebagai umara yang dekat dengan ulama. Saat menjadi bupati, Rudy kerap menghadiri pengajian dan berbaur dengan masyarakat.

Kedekatan tersebut bahkan membuat Rudy diangkat sebagai anak angkat oleh salah satu ulama kharismatik Banua, KH Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal sebagai Guru Sekumpul.

Dari Kabupaten Banjar, perjalanan pengabdiannya kemudian berlanjut ke tingkat provinsi.

Satu Dekade Memimpin Kalimantan Selatan

Puncak karier pemerintahan Rudy Ariffin terjadi ketika ia dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Selatan pada 5 Agustus 2005.

Ia kemudian dipercaya memimpin Kalsel selama dua periode.

Pada periode pertama 2005–2010, Rudy berpasangan dengan H Rosehan NB. Sementara pada periode kedua 2011–2015, ia berpasangan dengan H Rudy Resnawan.

Sepuluh tahun berada di pucuk pemerintahan provinsi membuat Rudy meninggalkan berbagai warisan pembangunan di sejumlah sektor.

Di bidang kesehatan, pemerintahannya membangun Rumah Sakit Gigi dan Mulut Hasan Aman.

Sementara di sektor pendidikan, pemerintah provinsi memberikan bantuan pembangunan Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat dan mendorong berdirinya Fakultas Kedokteran. Pembangunan SMA Banua juga menjadi salah satu program yang lahir pada masa kepemimpinannya.

Di bidang infrastruktur, perbaikan Jalan Trans Kalimantan dilakukan di sejumlah ruas. Pengerukan alur ambang Sungai Barito juga dituntaskan.

Untuk menjawab persoalan kelistrikan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, pemerintahannya turut mendorong pembangunan PLTU Asam-Asam berkapasitas 2 x 65 megawatt.

Kebijakan Batu Bara dan Jalan Khusus

Salah satu kebijakan yang cukup menonjol pada masa pemerintahan Rudy adalah pengaturan angkutan batu bara.

Melalui Perda Nomor 3 Tahun 2008, truk pengangkut batu bara dilarang melintasi jalan umum. Perusahaan pertambangan diwajibkan membangun jalan khusus untuk aktivitas pengangkutan batu bara.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mengatur aktivitas angkutan hasil tambang agar tidak mengganggu penggunaan jalan umum.

Namun, dari berbagai kebijakan yang pernah diambil, salah satu keputusan Rudy yang jejaknya paling jelas hingga kini adalah pembangunan pusat perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.

Memindahkan Pusat Pemerintahan ke Banjarbaru

Gagasan memindahkan pusat pemerintahan provinsi dari Banjarmasin sebenarnya telah dirintis oleh gubernur sebelumnya.

Rudy kemudian melanjutkan dan merealisasikan gagasan tersebut.

Dalam prioritas pembangunan 2006–2010, pemindahan perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ke Banjarbaru menjadi salah satu agenda utama.

Satu per satu kantor pemerintahan provinsi dibangun di kawasan Trikora–Palam–Guntung Upih.

Hingga akhirnya, sekretariat daerah, dinas, dan badan di lingkungan Pemprov Kalsel mulai berkantor di Banjarbaru.

Langkah tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan pemerintahan Kalimantan Selatan.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2022 kemudian menetapkan Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

Warisan yang Tak Hanya Berupa Bangunan

Warisan Rudy Ariffin untuk Banua tidak seluruhnya berbentuk bangunan maupun infrastruktur.

Ia juga memberikan perhatian terhadap kebudayaan Banjar.

Pada masa kepemimpinannya, seniman, sastrawan, dan budayawan mendapat ruang melalui pemberian penghargaan seni dan budaya.

Berbagai kegiatan seni turut didorong, termasuk pentas seni, pembentukan Lembaga Budaya Banjar Kalimantan Selatan, Festival Budaya Banjar hingga Kongres Budaya Banjar yang mempertemukan masyarakat Banjar di Banua dan perantauan.

Perhatian terhadap masyarakat Banjar di luar daerah juga diwujudkan melalui perintisan Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Sedunia.

Organisasi tersebut dibentuk sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi, komunikasi serta pemberdayaan masyarakat Banjar, baik di Banua maupun di berbagai daerah perantauan.

Kepedulian di Tengah Bencana

Rudy juga dikenang memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

Ketika bencana tsunami melanda Aceh, pemerintahannya menggalang bantuan yang kemudian mencapai Rp1,2 miliar.

Selain bantuan tersebut, sebanyak 50 relawan juga dikirimkan ke Aceh untuk membantu penanganan pascabencana.

Kini, perjalanan panjang Rudy Ariffin telah berakhir.

Jenazahnya yang dibawa ke Masjid Agung Al-Karomah Martapura disambut masyarakat, kolega dan para jemaah.

Di tempat yang pernah menjadi salah satu bagian dari jejak pengabdiannya itu, masyarakat kembali berkumpul. Namun kali ini bukan untuk menyaksikan sebuah pembangunan, melainkan untuk melepas kepergian seorang mantan pemimpin Banua.

Dari seorang birokrat di Sungai Tabuk, Bupati Banjar, hingga Gubernur Kalimantan Selatan selama satu dekade, Rudy Ariffin meninggalkan jejak yang tidak hanya tercatat dalam arsip pemerintahan.

Sebagian di antaranya menjelma menjadi bangunan, kebijakan dan perubahan wajah pemerintahan Kalimantan Selatan yang masih dapat dilihat hingga hari ini. (nurul)

Pos terkait