Bunda PAUD Banjarmasin Ingatkan Remaja soal Bahaya FOMO dan Narkoba

BANJARMASIN, dnusantarapost.comBunda PAUD Kota Banjarmasin Hj. Neli Listriani mengajak para remaja memahami pentingnya kesehatan mental, mengelola tekanan akademik, serta menjauhi lingkungan negatif, narkoba, dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

Pesan tersebut disampaikan Hj. Neli dalam kegiatan Psikoedukasi Tematik Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus di Taman Edukasi dan Rekreasi Zahri Saleh, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti para pelajar dan dihadiri langsung Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Hj. Neli Listriani.

Dalam sambutannya, Neli menekankan kesehatan jiwa dan raga sebagai salah satu fondasi penting bagi proses belajar dan pencapaian prestasi siswa.

Menurut dia, kondisi mental yang stabil membantu remaja mengelola stres, berinteraksi dengan baik, serta mengambil keputusan secara bijak.

“Kesehatan jiwa dan raga yaitu kesehatan jiwa maupun mental merupakan kondisi ketika pikiran, emosi, dan perasaan berada dalam keadaan tenang dan stabil. Remaja yang sehat jiwa mampu mengelola stres, berinteraksi dengan baik, serta mengambil keputusan secara bijak. Apabila mental pian baik, pian akan melaksanakan belajar dengan tenang dan hasil yang didapatkan sesuai harapan,” kata Hj. Neli Listriani.

Selain tekanan akademik, Neli menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi remaja saat ini, termasuk fenomena Fear of Missing Out (FOMO), pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba.

Ia mengimbau para remaja memilih lingkungan pergaulan yang positif serta tidak mencoba obat-obatan terlarang.

“Pesan ulun lawan buhan pian, kalau buhan pian hendak sukses, hiduplah di lingkungan yang positif. Jangan sampai terjerumus di lingkungan negatif atau narkoba, karena rasa ingin tahu dan mencoba yang tinggi. Apabila saraf sudah rusak karena narkotika, mengembalikan mental yang baik itu sulit,” tegasnya.

Sesi interaktif menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Seorang siswi kelas VIII SMP di Banjarmasin bernama Nad menyampaikan pengalaman mengenai tekanan emosional yang dialaminya.

Nad mengaku merasa tertekan akibat ekspektasi akademik dan tuntutan untuk selalu meraih peringkat di sekolah. Kondisi tersebut semakin berat ketika usaha belajarnya dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

Mendengar cerita tersebut, Neli memberikan motivasi kepada Nad agar tidak berlarut dalam kesedihan dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pemicu semangat.

Neli juga mengingatkan para orang tua agar membangun pola komunikasi yang dapat mendukung perkembangan anak. Ia meminta orang tua tidak membanding-bandingkan pencapaian anak dengan anak lainnya.

“Jangan berlarut dalam kesedihan. Apapun yang menjadi motivasi orang tua, kita kejar dan kita buktikan tanpa harus berlarut-larut dalam kesedihan. Ulun berpesan kepada orang tua untuk tidak membanding-bandingkan anak-anak, tetapi memotivasi mereka agar lebih giat belajar dan berprestasi,” pungkas Hj. Neli.

Kegiatan psikoedukasi tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus menghadapi tekanan dan tantangan yang muncul selama masa remaja. (Alf/Vina)

Pos terkait