SUNGAI TABUK, dnusantarapost.com – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifuddin, menyatakan bahwa Kabupaten Banjar saat ini menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam penanganan bencana banjir.
Hal tersebut disampaikan menyusul masih tingginya dampak banjir yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar, Minggu (4/1/2026)
Menurut Syarifuddin, Pemprov Kalsel terus memantau perkembangan situasi banjir dan mengerahkan dukungan lintas sektor untuk membantu pemerintah kabupaten dalam penanganan darurat maupun pemulihan.
“Saat ini Kabupaten Banjar menjadi salah satu prioritas penanganan banjir oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, mengingat jumlah warga terdampak dan wilayah yang masih terendam,” ujar Muhammad Syarifuddin.
Ia menjelaskan, meski beberapa daerah mulai menunjukkan tanda-tanda surut, status kebencanaan di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan hingga kini masih berada pada status siaga.
Status tersebut ditetapkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem dan kemungkinan banjir susulan.
“Untuk Provinsi Kalimantan Selatan sendiri, statusnya masih siaga. Kami tetap waspada dan menyiapkan seluruh sumber daya yang diperlukan,” jelasnya.
Selain Kabupaten Banjar, Syarifuddin juga menyampaikan bahwa Kabupaten Balangan sebelumnya sempat menetapkan status tanggap darurat akibat banjir bandang.
Namun, seiring membaiknya kondisi di lapangan, status tersebut telah dicabut dan saat ini Kabupaten Balangan telah memasuki masa pemulihan.
“Balangan sempat berstatus tanggap darurat karena banjir bandang. Sekarang statusnya sudah dicabut dan masuk tahap pemulihan,” ungkapnya.
Pemprov Kalsel, lanjut Syarifuddin, terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, BPBD, TNI-Polri, serta instansi terkait dalam penyaluran bantuan logistik, pengoperasian dapur umum, hingga dukungan personel di lapangan.
Selain penanganan darurat, Pemprov Kalsel juga mendorong percepatan pendataan dan asesmen dampak banjir agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dilakukan setelah masa kedaruratan berakhir.
“Koordinasi dan semangat gotong royong menjadi kunci agar penanganan banjir berjalan efektif dan masyarakat terdampak bisa segera terbantu,” pungkasnya. (nurul octaviani)





