BANJARBARU, dnusantarapost.com – Akibat mabuk Kecubung, 27 orang harus dirawat dan 2 orang lainnya dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan pada Selasa (9/7/2024).
“Ada dua orang pasien laki-laki yang meninggal dunia pada hari Jumat tanggal 5 Juli 2024 dan Selasa pagi tanggal 9 Juli 2024,” ujar Plt Direktur RSJ Sambang Lihum Yuddy Riswandhy Noora.
Saat ini, ada 27 pasien yang dirawat di RSJ Sambang Lihum akibat kecubung. 24 diantaranya laki-laki dan 3 diantaranya perempuan. Para pasien tersebut berusia sekitar 20 hingga 53 tahun.
Pasien mabuk kecubung datang ke IGD RSJ Sambang Lihum Provinsi Kalimantan Selatan sejak Jumat 5 Juli 2024 dan terus berdatangan hingga Selasa (9/7/2024) pagi dalam keadaan meranyau, linglung, gelisah, demam hingga mengamuk.
Para pasien yang datang ke RSJ Sambang Lihum, mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit hingga efek halusinasi mereka hilang. Jika pasien tidak bisa tidur, maka pihak rumah sakit akan memberikan obat tidur, jika pasien mengamuk, pasien akan diberikan obat penenang hingga obat untuk mengeluarkan zat adiktif kecubung melalui urin.

Direktur RSJ Sambang Lihum, Yuddy Riswandhy Noora mengatakan, pasien mabuk kecubung yang datang ke RSJ Sambang Lihum dari berbagai Kabupaten Kota di Provinsi Kalimantan Selatan.
“Berdasarkan data KTP, pasien yang datang dari Banjarmasin, Banjarbaru, Batola, Hulu Sungai Selatan dan terbaru dari Kotabaru,” ungkap Yuddy.
Sementara itu, dr Firdaus Yamani, Sp.KJ (K) Psikiater Konsultan Adiksi RSJ Sambang Lihum menjelaskan
efek halusinasi saat mabuk kecubung akan berlangsung selama 2 atau 3 hari.
“Pasien harus dilakukan evaluasi atau perawatan selama kurang lebih 2 minggu agar zat adiksi dari kecubung benar-benar hilang di spesialis adiksi,” ujarnya.
Pihak RSJ Sambang Lihum pun belum bisa memastikan para pasien mengonsumsi Kecubung dengan cara apa karena mayoritas pasien yang dirawat masih dalam keadaan gelisah sehingga belum bisa diperoleh informasi yang akurat.
“Kita belum tahu mereka mengonsumsi dengan cara apa, karena masih dalam kondisi gelisah dan lingkung, namun dari diagonsa sementara kecubung dioplos dengan alkohol dan zenith,” ujar Firdaus lagi.
Pihak RSJ Sambang Lihum juga belum bisa memastikan para pasien mengonsumsi Kecubung dengan cara apa karena mayoritas pasien yang dirawat masih dalam keadaan gelisah sehingga belum bisa diperoleh informasi yang akurat.
“Kita belum tahu mereka mengonsumsi dengan cara apa, karena masih dalam kondisi gelisah dan lingkung, namun dari diagonsa sementara kecubung dioplos dengan alkohol dan zenith,” ujar Firdaus lagi. (Tata)






