Tausiah di Masjid Nurul Anwar Marabahan, Gus Muwafiq Ingatkan Warga Barito Kuala Soal Bersyukur

MARABAHAN – Cuaca yang sedikit dingin usai diguyur hujan, tak menyurutkan antuasias warga untuk menghadiri Tabligh Akbar bersama K.H. Ahmad Muwafiq di Masjid Nurul Anwar Marabahan, Rabu (18/1) malam.

Kehadiran salah seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang berdomisili di Sleman tersebut, masih merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala Ke – 63.

Bacaan Lainnya

Juga dihadiri sejumlah pemuka agama, Penjabat Bupati Mujiyat dan Forkopimda di Batola, ulama yang biasa disapa Gus Muwafiq itu mengingatkan kembali soal syukur yang sedianya sudah menjadi tradisi di Indonesia.

“Semua mesti bersyukur menjadi orang Indonesia, karena telah diajari nenek moyang sebagai orang yang paling pandai bersyukur,” papar Gus Muwafiq.

“Bahkan acara syukuran terbanyak di dunia hanya terjadi di Indonesia. Momen apapun selalu disyukuri, sehingga tak mengherankan kalau setiap bulan digelar tasyakuran,” imbuhnya.

Gus Muwafiq lantas menyebut beberapa tasyakuran yang lazim digelar di Tanah Air. Mulai dari syukuran maulid Nabi Muhammad, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an, syukuran lebaran atau halal bihalal, syukuran berangkat haji, pernikahan dan seterusnya.

“Kalau sudah syukuran, biasanya dua hal besar yang dilakukan. Salah satunya menyampaikan ilmu, karena acara syukuran selalu mendatangkan ulama,” beber Gus Muwafiq.

“Kemudian setiap tasyakuran juga menggerakkan roda ekonomi. Misalnya ketika bulan maulid tiba, pedagang makanan kebanjiran order. Persewaan tenda juga demikian, termasuk tukang kamera,” tambahnya.

Mengutip Al – Qur’an Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji Allah terhadap manusia yang bersyukur, Gus Muwafiq meyakini bahwa tradisi syukur itu terbukti membuat Indonesia lebih baik dalam melewati berbagai masalah global.

“Dari tasyakuran pula, tersedia ruang-ruang bersama untuk belajar. Malah apapun kebijakan kelembagaan atau negara, dapat disampaikan dalam majelis tasyakuran,” urai Gus Muwafiq.

“Misalnya ketika pandemi Covid-19, pemuka agama juga berperan menyampaikan protokol kesehatan (pakai masker dan cuci tangan) melalui pendekatan keagamaan,” sambungnya.

Hasilnya Indonesia bisa melewati fase sulit dengan sederhana, tidak seperti Malaysia, India atau China yang mesti melakukan lock down.

“Demikian pula ketika menyikapi isu-isu besar seperti khilafah yang telah menghancurkan Suriah dan Libya,” tegas Gus Muwafiq.

“Di sisi lain, perkembangan Islam di Indonesia juga terus berkembang pesat sehingga menjadi kekuatan muslim terbesar di dunia,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *