MARTAPURA, dnusantarapost.com – Penurunan debit air yang terjadi secara drastis di Sungai Arfat, Kabupaten Banjar, mengakibatkan ribuan ikan milik warga mati massal. Sedikitnya sekitar 1.000 keramba budidaya ikan di sepanjang aliran sungai terdampak, sehingga menyebabkan kerugian besar bagi para pembudidaya.
Pembakal Sungai Arfat, Normaliansyah, mengatakan kondisi tersebut mulai terjadi sejak Selasa (6/7/2026) lalu. Dalam beberapa hari terakhir, permukaan air sungai terus mengalami penurunan hingga mencapai sekitar satu meter, membuat pasokan oksigen di dalam keramba berkurang dan menyebabkan ikan tidak mampu bertahan hidup.

“Ikan-ikan di Sungai Arfat banyak yang mati karena banyu (air) sungai turun drastis. Penurunannya kurang lebih sekitar 1 meter. Kejadiannya sejak Selasa sampai hari ini,” ujar Normaliansyah, Rabu (7/7/2026) di lokasi.
Ia menjelaskan, penurunan muka air kali ini berlangsung sangat cepat. Bahkan dalam waktu singkat, ketinggian air disebut sempat turun sekitar 75 sentimeter sehingga berdampak langsung terhadap ribuan keramba milik masyarakat.
Menurutnya, puncak kematian ikan terjadi pada hari ini. Hampir seluruh pembudidaya ikan di kawasan tersebut mengalami kerugian karena sebagian besar ikan di dalam keramba mati.
“Hari ini puncaknya, kematian ikan terjadi secara total. Bisa dikatakan hampir habis seluruh pasokan ikan milik masyarakat di sini,” katanya.
Normaliansyah mengungkapkan, Pemerintah Desa telah menerima banyak laporan dari warga yang kehilangan hasil budidaya mereka. Menindaklanjuti hal tersebut, pihak desa langsung berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, Dinas Perikanan, serta menyampaikan laporan kepada instansi terkait melalui berbagai jalur komunikasi.
Namun hingga saat ini, kata dia, belum ada langkah penanganan yang dilakukan sehingga debit air belum kembali normal dan kematian ikan masih terus terjadi.
“Biasanya kalau ada laporan air surut seperti ini, penanganannya cepat saja. Tapi untuk kali ini, sepertinya belum ada tanggapan sama sekali. Akibatnya air tetap surut dan ikan yang mati terus bertambah setiap hari,” tuturnya.
Atas kondisi tersebut, Pemerintah Desa Sungai Arfat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan yang terjadi. Pasalnya, sebagian besar warga di desa tersebut menggantungkan mata pencaharian dari usaha budidaya ikan di keramba.
“Harapan kita kepada pemerintah, tolonglah perhatikan masyarakat kami yang menjadi petani ikan. Mohon pihak terkait yang peduli bisa mencarikan solusi agar aliran air ini bisa kembali jalan dan normal. Itu saja keinginan kami,” pungkas Normaliansyah. (nurul octaviani)




