Kabupaten Banjar Dikepung Masalah ATS, Rata-Rata Lama Sekolah Hanya Sampai Kelas 2 SMP

MARTAPURA, dnusantarapost.com – Rendahnya rata-rata lama sekolah menjadi salah satu penyebab stagnasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Banjar yang hanya mencapai 74,41 persen pada 2024. 

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan yang dirilis Mei 2025 itu memperlihatkan bahwa sektor pendidikan masih menjadi tantangan utama di daerah ini. 

Bacaan Lainnya

Ditambah lagi, Kementerian Pendidikan dasar dan Menangah RI merilis data Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Kabupaten Banjar menjadi yang tertinggi se Kalsel sebanyak 12.752 anak. 

Salah satu indikator IPM yang belum optimal adalah angka rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas di Kabupaten Banjar yakni hanya 7,95 tahun (7 tahun 11 bulan) atau setara kelas 2 SMP menempatkannya sebagai peringkat kelima terendah se-Kalimantan Selatan.

Tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) menjadi penyumbang langsung rendahnya capaian ini.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dasar dan Menengah RI, ada ribuan anak di Kabupaten Banjar yang putus sekolah dan tidak menyelesaikan program wajib belajar 12 tahun dengan rincian : 

– Belum pernah sekolah : 6.694 anak

– Putus sekolah jenjang SD : 746 anak 

– Putus sekolah jenjang SMP : 955 anak 

– Putus sekolah jenjang SMA : 996 anak 

– Lulus SD tidak lanjut jenjang SMP : 1.408 anak 

– Lulus SMP tidak lanjut jenjang SMA : 1.682 anak. 

Harapan lama sekolah di Kabupaten Banjar tercatat 13,04 tahun. Ini berarti anak-anak yang lahir hari ini diperkirakan akan menempuh pendidikan hingga tamat SMA.

Namun angka ini belum cukup untuk menandakan keberhasilan akses ke jenjang perguruan tinggi, sebab idealnya harapan sekolah bisa mencapai lebih dari 14 tahun agar mencakup pendidikan tinggi secara optimal, seperti Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar HM Hilman menjelaskan, Anak Tidak Sekolah ini tersebar di 20 Kecamatan dan angka tertinggi ada di ibukota Kabupaten Banjar yakni Kecamatan Martapura. 

“Di Kecamatan Martapura ada 3.969 anak yang tidak sekolah,” ujarnya. 

Faktor ekonomi, kondisi sosial dan pola pikir serta kecenderungan masyarakat memilih sekolah non formal keagamaan tanpa memikirkan manfaat sekolah formal juga menjadi penyumbang angka ATS yang tinggi. 

“Jadi kesadaran masyarakat saat ini yang penting anaknya bisa mengaji dan menulis. Kesadaran mereka tentang kegunaan ijazah masih sangat rendah. Itu yang menjadi catatan kita,” ungkapnya. (nurul octaviani)

Pos terkait