MARTAPURA, dnusantarapost.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar masih menjadi persoalan serius. Hingga 13 September 2026, tercatat 305 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 2.086,638 hektare.
Kebakaran tersebut tersebar di 70 desa yang berada di 13 kecamatan.
Bupati Banjar H Saidi Mansyur mengatakan, penanganan karhutla menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Selain kondisi geografis, karakteristik lahan gambut di sejumlah wilayah membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Hal itu disampaikannya saat memimpin Apel Hari Kesadaran Nasional Lingkup Pemerintah Kabupaten Banjar di halaman Kantor Bupati Banjar, Senin (14/9/2026) pagi.
Menurut Bupati Saidi, wilayah seperti Cintapuri Darussalam, Martapura Barat, Martapura Timur, Sungai Tabuk, Gambut dan Beruntung Baru memiliki kawasan lahan gambut yang cukup luas.
Pada kondisi tertentu, api tidak hanya membakar bagian permukaan lahan, tetapi juga dapat bertahan dan merambat di bawah tanah. Situasi ini membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih lama.
Kesulitan juga muncul karena sejumlah titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau. Akses kendaraan terbatas dan jarak sumber air yang cukup jauh turut memperbesar tantangan petugas dalam melakukan pemadaman.
“Karena itulah saya secara pribadi turun langsung ke lapangan bersama jajaran BPBD, Damkar dan SKPD terkait, TNI/Polri, instansi terkait, serta para relawan. Ini merupakan bentuk kehadiran dan komitmen bahwa Pemerintah Daerah tidak tinggal diam dalam menghadapi bencana ini,” tegas Saidi.
Selain mengancam lingkungan, karhutla juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar mencatat 9.718 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif selama Minggu ke-27 hingga Minggu ke-35 Tahun 2026.
Periode tersebut berlangsung sejak 5 Juli hingga 5 September 2026.
Bupati Saidi meminta Dinas Kesehatan memperkuat pelayanan kepada masyarakat yang terdampak kabut asap. Penanganan juga diminta lebih diperhatikan terhadap kelompok rentan.
“Melihat tren ini, saya minta Dinas Kesehatan memastikan pelayanan bagi masyarakat terdampak, khususnya penanganan kasus ISPA dan perhatian ekstra kepada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan lanjut usia,” ucapnya.
Dampak kabut asap turut berimbas pada kegiatan belajar mengajar. Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Pendidikan telah menerbitkan Surat Edaran terkait pelaksanaan pembelajaran pada masa kabut asap di satuan pendidikan.
Dalam kebijakan tersebut, sekolah yang terdampak atau terpapar kabut asap dapat menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) maupun Belajar dari Rumah (BDR).
Pelaksanaan pembelajaran tetap harus memperhatikan kualitas udara serta keselamatan dan kesehatan peserta didik maupun seluruh warga satuan pendidikan.
Di sisi lain, Bupati Saidi mengingatkan jajaran perangkat daerah agar penanganan karhutla tidak membuat target pemerintahan dan pembangunan terabaikan.
Ia meminta seluruh perangkat daerah segera mengevaluasi capaian fisik dan keuangan hingga saat ini, terutama program dan kegiatan yang masih menunjukkan progres rendah.
“Penguatan disiplin kinerja dan koordinasi sampai akhir tahun. Saya minta seluruh Kepala Perangkat Daerah memahami target yang harus dicapai sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2026, serta secara aktif menyelesaikan berbagai kendala yang ada. Jangan saling menunggu dan jangan ada ego sektoral. Kalau persoalannya lintas sektor, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan secara lintas sektor,” pungkasnya. (nurul)





