Kasus ISPA di Kalsel Capai 33 Ribu, Dinkes Siagakan Posko

BANJARMASIN, dnusantarapost.com – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat 33.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak awal Agustus hingga minggu ketiga di 13 kabupaten/kota.

Peningkatan kasus tersebut terjadi di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.

Bacaan Lainnya

Kepala UPTD Pelayanan Krisis dan Epidemi Kesehatan Dinkes Provinsi Kalsel, Suriani Agreini Sagoba, mengatakan sejumlah daerah mencatat peningkatan kasus yang cukup tinggi.

“Sampai minggu ketiga ini, untuk 13 kabupaten/kota tercatat ada 33.000 kasus ISPA sejak awal Agustus. Sedangkan untuk lima daerah tertinggi, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar, peningkatannya mencapai 8.482 kasus per minggu,” ujar Suriani, Sabtu (29/8/2026).

Selain ISPA, Dinkes Kalsel juga mencatat peningkatan sejumlah penyakit lain selama periode karhutla. Tercatat sebanyak 4.045 kasus diare akut, 524 kasus pneumonia, dan 474 kasus suspek demam tifoid.

“Terjadinya karhutla ini memang berdampak pada peningkatan beberapa kasus penyakit. Namun, untuk kasus kejadian kematian ataupun penyakit yang sampai harus menjalani rawat inap, saat ini tidak ada,” tegasnya.

Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan maraknya karhutla, Dinkes Kalsel belum menyimpulkan secara epidemiologis bahwa seluruh peningkatan kasus ISPA tersebut secara langsung disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.

“Sampai saat ini, secara penyelidikan surveilans epidemiologi kita belum ada pernyataan atau membuktikan flu ini murni karena pengaruh kebakaran. Itu yang belum bisa kita pertanggungjawabkan secara penelitian. Tapi yang jelas, dengan adanya karhutla ini kasus ISPA memang meningkat,” jelas Suriani.

Dinkes Kalsel Siagakan Lima Posko Kesehatan

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Dinkes Kalsel menyiagakan sekitar lima posko pelayanan kesehatan terpadu yang bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Posko tersebut berada di sejumlah titik, di antaranya Pengayuan, Guntung Damar, Bundaran Kamaratih, Hutan Lindung, hingga RS Jiwa.

“Kami menyiagakan posko pelayanan terpadu untuk membantu petugas pemadam api, serta memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak langsung kabut asap,” katanya.

Selain menyiagakan posko, petugas kesehatan juga melakukan pelayanan dan sosialisasi ke sekolah, pesantren, hingga universitas. Pembagian masker gratis juga dilakukan di sejumlah ruas jalan dan pasar tradisional.

Terkait penggunaan masker, Suriani mengatakan tidak ada merek maupun jenis tertentu yang secara khusus diwajibkan bagi masyarakat.

“Sebenarnya tidak ada merek atau tipe khusus yang diwajibkan. Tapi disarankan masyarakat memilah masker yang tidak terlalu tipis dan kualitasnya lebih baik agar tidak mudah robek serta lebih efektif menahan debu dan asap. Masker kain pun sebenarnya tetap boleh digunakan,” tuturnya.

Dua Korban Luka Bakar Ditangani Petugas Medis

Hingga saat ini, tim medis UPTD Pelayanan Krisis Kesehatan juga telah menangani dua korban luka bakar akibat dampak kebakaran lahan.

Kedua korban terdiri atas seorang dewasa yang ditangani di Posko Pengayuan dan seorang anak berusia 11 tahun di sekitar Posko Guntung Damar.

“Ada dua korban kena dampak kebakaran yang ditangani. Petugas medis langsung memberikan penanganan awal di lokasi dan merujuk korban ke UGD rumah sakit untuk perawatan lanjutan,” pungkas Suriani.

Dinkes Kalsel terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus penyakit di seluruh kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya penanganan dampak kesehatan di tengah kondisi karhutla dan cuaca ekstrem. (Alf/Vina)

Pos terkait