BANJAR, dnusantarapost.com — Pemerintah Kabupaten Banjar menyalurkan bantuan kedaruratan kepada warga terdampak musibah rumah ambles di Komplek Fadillah Perdana Lima, Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Kertak Hanyar, Minggu (26/7/2026).
Bantuan disalurkan secara terpadu melalui Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Banjar guna memenuhi kebutuhan mendesak warga terdampak.
Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar, Dr. Hj. Erni Wahdini, S.Pd., M.Pd., mengatakan pemerintah daerah turun langsung ke lokasi dengan membawa bantuan logistik berupa sembako, perlengkapan memasak, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Kami dari Dinas Sosial P3AP2KB menyampaikan bantuan kedaruratan berupa sembako bersama BPBD serta Baznas. Bantuan juga berupa peralatan memasak dan tempat tidur,” ujarnya.
Selain bantuan logistik, Baznas Kabupaten Banjar turut memberikan santunan kepada para korban.
“Bantuan dari Baznas berupa uang tunai masing-masing sebesar Rp3 juta. Untuk keluarga korban yang meninggal dunia diberikan tambahan santunan sebesar Rp1 juta,” lanjut Erni.
Terkait rumah warga yang mengalami kerusakan berat, Pemkab Banjar telah melakukan koordinasi dengan pihak pengembang perumahan. Hasilnya, pengembang menyatakan siap bertanggung jawab membangun kembali rumah yang roboh serta menyediakan hunian sementara bagi warga terdampak.
“Kami sudah berdiskusi dengan pihak pengembang. Mereka menyatakan akan membangun kembali rumah yang roboh dan menyiapkan hunian sementara. Alhamdulillah, pihak pengembang bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan kembali rumah warga yang terdampak musibah,” katanya.
Salah seorang korban, Abdul Latif, penghuni rumah nomor 31 yang mengalami kerusakan paling parah, mengaku bersyukur atas perhatian dan bantuan yang diberikan pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, terima kasih atas bantuannya. Sangat membantu dan setidaknya meringankan beban kami yang terkena musibah,” ucapnya.
Abdul Latif menuturkan rumah tersebut merupakan salah satu bangunan awal di kompleks tersebut dan telah ditempatinya sekitar lima tahun melalui proses take over. Saat kejadian, ia hanya sempat menyelamatkan sebagian kecil pakaian yang sudah dalam kondisi basah dan berlumpur.
Ia berharap pembangunan kembali rumah dilakukan dengan memperhatikan kualitas pondasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kebutuhan paling mendesak saat ini tentu tempat tinggal. Ke depan kami berharap pembangunan rumah benar-benar memperhatikan pola dan kekuatan pondasinya, sehingga dipastikan layak sebelum dibangun,” katanya.
Sementara itu, Pembakal Simpang Empat, Mulyadi, mengatakan pemerintah desa langsung berkoordinasi dengan BPBD, Dinas Sosial, dan Baznas begitu menerima laporan kejadian guna mempercepat penanganan darurat.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak, terutama mengingat kawasan tersebut merupakan wilayah rawa yang membutuhkan konstruksi pondasi sesuai kondisi tanah.
“Kejadian ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua, baik warga, pengembang maupun instansi terkait. Karena kawasan ini merupakan daerah rawa, pengerjaan pondasi bangunan harus benar-benar diperhatikan agar tidak berakibat fatal,” ujarnya.
Mulyadi juga mendorong pengembang melibatkan tenaga ahli atau arsitek untuk mengkaji kekuatan struktur bangunan sebelum proses pembangunan kembali dilakukan.
“Harapan kami, pengembang dapat melibatkan arsitek atau tim ahli untuk mengukur kekuatan bangunan sehingga masyarakat kembali merasa aman dan kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (Alf/Vina)





