BANJARBARU, dnusantarapost.com – Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Aksi Kamisan Banjarbaru kembali menggelar aksi damai di Titik Nol Kilometer Banjarbaru, Kamis (25/06/2026).
Aksi yang memasuki edisi ke-32 ini menyoroti pentingnya perlindungan anak dari dampak konflik bersenjata serta kebijakan yang dinilai bernuansa militeristik.
Kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Internasional Anak-Anak Tak Bersalah Korban Agresi (International Day of Innocent Children Victims of Aggression) yang diperingati setiap tahun sejak ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1982.
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Banjarbaru, Hassel, mengatakan aksi ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengingat pentingnya perlindungan terhadap anak-anak yang kerap menjadi kelompok paling rentan dalam situasi konflik maupun tindakan represif.
“Melalui aksi ini, kami ingin mengingatkan bahwa anak-anak harus tumbuh di lingkungan yang aman dan terbebas dari berbagai bentuk kekerasan,” ujarnya.
Selain menyoroti perlindungan anak, massa aksi juga mendesak pemerintah untuk mengakhiri praktik impunitas terhadap pelaku pelanggaran hak-hak warga sipil dan anak.
Menurut mereka, Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak perlu memperkuat penegakan hukum serta menjamin perlindungan hak-hak sipil secara menyeluruh.
Dalam aksi tersebut secara garis besar, terdapat lima tuntutan utama yang dibawa dalam Aksi Kamisan Banjarbaru #32 kali ini, di antaranya:
- Menuntut negara menjamin pemenuhan hak tumbuh kembang anak di lingkungan yang aman dan bebas dari rasa takut sesuai UU Perlindungan Anak.
- Mendesak akuntabilitas peradilan yang adil bagi seluruh pelaku kekerasan terhadap warga sipil guna mengakhiri impunitas.
- Menolak segala bentuk pendekatan militeristik di ruang sipil yang berpotensi mempersempit ruang kebebasan demokratis.
- Meminta pemerintah mengevaluasi pendekatan keamanan yang dinilai represif di berbagai wilayah sengketa di Indonesia.
- Menuntut penguatan sistem perlindungan anak yang inklusif, termasuk penyediaan fasilitas pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak korban kekerasan.
Massa aksi berharap kegiatan yang rutin digelar tersebut dapat menjaga kesadaran publik terhadap isu hak asasi manusia, perlindungan anak, dan kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Aksi berlangsung damai dengan diikuti sejumlah peserta yang menyampaikan aspirasi secara terbuka di ruang publik Kota Banjarbaru, dnusantarapost.com. (Alf/Nawir)





