Momen Terakhir Ustadzah Hasanah, Sang Ibu Ungkap Firasat Sebelum Ditemukan Tewas

BANJARBARU, dnusantarapost.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Ustadzah Hasanah yang tewas dibunuh secara tragis di Jalan Seledri, Rabu (28/4/2026) malam.

Sosok yang dikenal sederhana dan penyayang itu menjadi korban keganasan dua pelaku berinisial AS dan MFI.

Bacaan Lainnya

Dalam konferensi pers di Polsek Banjarbaru Utara, Sabtu (2/5/2026), sang ibu, Mudiah, hadir dengan kesedihan yang masih begitu terasa.

Ia mengungkapkan momen terakhir bersama anaknya yang kini tak akan pernah terulang.
Menurutnya, pada hari kejadian, Hasanah sempat menghubunginya untuk meminta dibawakan air minum.

“Dia menghubungi saya, katanya, ‘Ma, bawakan banyu (air minum), terserah aja yang dingin’,” ucap Mudiah dengan suara bergetar.

Permintaan sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir. Sekitar pukul 18.00 WITA pada hari kejadian, Mudiah mengantarkan air tersebut tanpa menyangka itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang anak.

“Ulun (saya) merasa itu nggak wajar, dia tidak biasanya meminta hal seperti itu,” tuturnya lirih.

Kekhawatiran mulai berubah menjadi kepanikan saat Hasanah tak kunjung pulang dan tidak hadir mengajar di pondok pesantren.

Bersama suaminya, Mudiah menyisir Jalan Seledri—jalur yang biasa dilalui anaknya setiap hari.

Di tengah pencarian itu, Mudiah sempat bertanya kepada dua pria di sebuah pondok yang belakangan diketahui adalah pelaku.

“Iya, saya sempat bertanya, ada tidak melihat perempuan di sekitar sini. Dia bilang tidak tahu. Suami saya juga sempat masuk ke pondok itu, tapi tidak menemukan hal yang mencurigakan,” katanya.

Harapan yang tersisa akhirnya runtuh. Mudiah sendiri yang menemukan anaknya tergeletak di semak-semak dalam kondisi tak bernyawa. Pemandangan itu menjadi luka yang tak akan pernah hilang.

“Ikatan batinnya dengan saya begitu kuat, hati saya yakin dia pasti masih ada di sekitar sana,” ungkap Mudiah.

Sepeda motor korban ditemukan tak jauh dari lokasi, seolah menjadi saksi bisu peristiwa keji tersebut.

Meskipun Mudiah hanya berstatus ibu sambung, ia sudah merawat Hasanah sejak usia 10 tahun dan sangat terpukul dengan kejadian ini. Ia tak menyangka anak pertamanya yang begitu baik bernasib tragis seperti ini.

“Saya sangat terpukul dengan kejadian ini dan berharap pelaku dihukum mati,” tegasnya dengan mata berkaca-kaca. (nurul octaviani)

Pos terkait