PELAIHARI, dnusantarapost.com – Di Desa Durian Bungkuk, setiap pernikahan kini tidak hanya dirayakan dengan pesta, tetapi juga dengan penanaman pohon durian.
Tradisi ini dikenal dengan nama “Tandur Cinta”, sebuah program unik yang mewajibkan setiap pasangan pengantin baru menanam pohon durian sebagai tanda cinta dan awal perjalanan hidup bersama.
Kepala Desa Durian Bungkuk, Muhammad Fathurrozi, mengungkapkan dalam wawancara dengan pada Jumat (3/10/2025), bahwa program Tandur Cinta mulai diperkenalkan pada 2024 dan resmi diwajibkan pada 2025.
Sejak itu, setiap pasangan yang menikah di desa ini harus menanam minimal dua bibit durian.
“Nama desa kami Durian Bungkuk, tapi dulunya pohon durian bisa dihitung dengan jari. Sekarang, lewat Tandur Cinta, kami ingin benar-benar menjadikan desa ini kampung durian. Setiap keluarga baru menanam durian, setiap cinta baru menumbuhkan kehidupan,” tutur Fathurrozi.
Makna dari tradisi ini begitu dalam. Pohon durian yang ditanam bukan sekadar tanaman, melainkan simbol perjalanan rumah tangga.
Ia harus dipelihara bersama, dijaga agar tumbuh kuat, hingga akhirnya berbuah manis sama seperti cinta dan rumah tangga yang dipupuk dengan kesabaran.
Selain nilai simbolis, program ini juga membawa manfaat nyata. Pohon durian yang ditanam di pekarangan pasangan pengantin akan menjadi milik mereka. Jika kelak berbuah, hasilnya bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
“Durian adalah raja buah. Dengan Tandur Cinta, setiap rumah tangga baru memiliki investasi hidup yang bisa diwariskan kepada anak dan cucu. Mereka bisa berkata, inilah pohon cinta orang tua kami yang ditanam di hari pernikahan,” tambahnya.
Data pemerintah desa mencatat, sepanjang 2025 sudah ada lebih dari seratus bibit durian yang tumbuh dari tangan para pasangan pengantin. Setiap pohon menjadi penanda jejak cinta sekaligus menyuburkan identitas desa.
Tradisi Tandur Cinta menunjukkan bahwa menanam pohon bukan hanya soal penghijauan, tetapi juga tentang menumbuhkan harapan, memperkuat ikatan keluarga, menjaga identitas desa, hingga membuka peluang ekonomi. Dari sebuah pohon durian, lahir cerita cinta, kebanggaan, dan masa depan. (nurul octaviani)





