BANJARBARU, dnusantarapost.com – INAFIS Polres Banjarbaru mengungkap hasil Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) peristiwa tenggelamnya klotok Santri Al Falah pada Rabu (30/10/2024)

Kaur Inafis Polres Banjarbaru, Bripka Aulia Rahman menjelaskan, dari pemeriksaan saksi-saksi hingga juru kemudi kapal berinisial F, pihak kepolisian menarik kesimpulan bahwa perahu mesin (klotok) yang dinaiki para santri Al Falah terjatuh ke belakang (tejungkang)
“Dari pemeriksaan F, klotok diisi oleh 33 orang dengan posisi berdiri,” ujarnya.
Sedangkan dari hasil pemeriksaan oleh Inafis Polres Banjarbaru, klotok tersebut hanya berkapasitas 10 hingga 15 orang saja.
“Sehingga, menurut keterangan F, klotok bukan karam ataupun terbalik, tapi terjungkit ke belakang,” ujarnya.
Bripka Aulia pun menjelaskan tujuan para Santri Al Falah menaiki klotok.
“F ini merupakan santri Al falah yang rumahnya ada di Aluh-Aluh Besar berjarak 1 kilometer dari tempat acara nikahan anak pengajar pondok, jadi habis acara nikahan itu niatnya mau makan-makan di rumah F,” ujarnya.
Para santri yang rata-rata belum pernah naik klotok pun berinisiatif berjalan-jalan sebentar menggunakan klotok sembari menunggu makanan matang.
Tak lama mereka menaiki klotok, insiden klotok terjungkit dan para santri tercebur pun terjadi.
“Mereka ini berenang ke tepian, usai kejadian ini mereka cuman ketawa-ketawa dan tidak sadar ada teman yang hilang,” ungkapnya.
Para santri pun baru sadar tiga orang temannya hilang ketika ingin pulang ke Pondok Pesantren Al Falah.
“Sehingga insiden itu menyebabkan tiga orang anak tenggelam dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” ujarnya lagi.
Ketiga korban itu bernama Muhammad Hafi Mubarok asal Kalimantan Timur, Muhammad Rizqi asal Sungai Lulut, dan Muhammad Safriyan asal Pelaihari. Insiden ini menyisakan duka mendalam bagi warga Aluh-Aluh Besar, pihak keluarga dan Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru. (nurul octaviani)





