DPKP Kalsel Evaluasi Kinerja 2025-2026, Produksi Pangan Disorot

BANJARBARU, dnusantarapost.com – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalimantan Selatan mengevaluasi capaian kinerja 2025 dan 2026, termasuk produksi pertanian dan ketahanan pangan, di tengah dampak kekeringan akibat kemarau panjang.

Evaluasi tersebut dilakukan melalui Sosialisasi Capaian Kinerja dan Ikhtisar Realisasi Kinerja SKPD di lingkungan DPKP Kalsel di Banjarbaru, Rabu (23/9/2026).

Bacaan Lainnya

Kepala DPKP Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kinerja organisasi, masing-masing bidang dan unit kerja, hingga kinerja individu.

Menurut Syamsir, evaluasi tidak hanya digunakan untuk mengukur hasil pelaksanaan program, tetapi juga membandingkan capaian 2026 dengan 2025 serta menilai pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diamanahkan kepada DPKP Kalsel.

“Evaluasi ini bertujuan melihat kinerja secara keseluruhan, per bidang, per unit kerja, dan per individu. Kita juga membandingkan kinerja 2026 dengan 2025 untuk melihat sejauh mana pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diamanahkan oleh Pak Gubernur,” kata Syamsir.

Kalsel Pertahankan Capaian Ketahanan Pangan

Syamsir menyampaikan, Kalimantan Selatan mempertahankan peringkat pertama nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan (IKP) pada 2025. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, Kalsel mencatat skor 81,98 dan berada di peringkat pertama nasional.

Menurut Syamsir, capaian tersebut menjadi salah satu indikator dalam mengukur pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan di Kalimantan Selatan.

“Capaian itu menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan di Banua,” ujarnya.

Produksi 2026 Diperkirakan 1,15 Juta Ton

Dari sisi produksi, Kalsel mencatat produksi padi sebesar sekitar 1,179 juta ton pada 2025. Data BPS mencatat produksi padi Kalsel pada 2025 mencapai 1.179.338,37 ton gabah kering giling (GKG).

Sementara itu, untuk 2026, berdasarkan angka sementara perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi diperkirakan mencapai sekitar 1,15 juta ton.

Syamsir menjelaskan, perkiraan penurunan produksi tersebut dipengaruhi kondisi kekeringan akibat kemarau panjang yang berdampak terhadap aktivitas pertanian.

Sejumlah petani juga melakukan panen lebih awal sehingga turut memengaruhi hasil produksi. Namun, DPKP Kalsel masih menunggu perkembangan produksi dalam satu bulan ke depan untuk memastikan angka akhir 2026.

“Tidak banyak turun, hanya sedikit karena adanya kekeringan dan kemarau panjang. Masih ada waktu satu bulan untuk melihat apakah produksi benar sekitar 1,15 juta ton atau masih bisa lebih,” jelasnya.

Hasil Evaluasi Jadi Bahan Laporan

Syamsir mengatakan hasil evaluasi kinerja selanjutnya akan dilaporkan kepada Kepala DPKP Kalsel sebagai bahan penyusunan nota dinas kepada Gubernur Kalsel, tenaga ahli gubernur, serta pihak terkait lainnya.

Evaluasi tersebut juga diharapkan menjadi bahan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan pelayanan di bidang pertanian serta ketahanan pangan.

“Pentingnya peran DPKP dalam memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi melalui pelaksanaan program pertanian dan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Alf)

Pos terkait