MARTAPURA, dnusantarapost.com — Perjalanan inovasi Kabupaten Banjar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup menarik.
Jumlah inovasi daerah memang mengalami naik turun. Namun di tengah dinamika tersebut, skor Indeks Inovasi Daerah (IID) Kabupaten Banjar justru menunjukkan peningkatan.
Data BAPPERIDA mencatat, pada 2023 terdapat 69 inovasi daerah, dengan 34 inovasi dikirim untuk penilaian IID.
Saat itu Kabupaten Banjar memperoleh skor 57,64, dengan peringkat 53 nasional dan kategori inovatif.
Pada 2024, jumlah inovasi meningkat menjadi 80 inovasi. Namun inovasi yang dikirim untuk penilaian IID sebanyak 25.
Skornya naik tipis menjadi 57,75, tetapi peringkat nasional berada di posisi 95. Predikat Kabupaten Banjar tetap dalam kategori inovatif.
Kemudian pada 2025, jumlah inovasi daerah tercatat 59 inovasi, dengan 27 inovasi dikirim untuk penilaian.
Menariknya, meski jumlah inovasi turun, skor justru meningkat menjadi 60,71.
Kabupaten Banjar tetap berada pada kategori inovatif, meski peringkat nasional berada di posisi 97.
Angka tersebut memperlihatkan satu hal: banyaknya inovasi tidak otomatis menjadi ukuran utama keberhasilan inovasi daerah.
Kepala BAPPERIDA Kabupaten Banjar, Hj. Anna Rosida Santi, ST, MT, mengatakan pihaknya kini tidak hanya mendorong perangkat daerah memperbanyak inovasi, tetapi juga memastikan inovasi tersebut benar-benar menjawab persoalan.
“BAPPERIDA mendorong perangkat daerah agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi, tetapi benar-benar menjawab permasalahan dan kebutuhan masyarakat,” kata Anna.
Bukan Sekadar Mengejar Jumlah
Menurut Anna, inovasi harus memiliki manfaat nyata dan tidak berhenti sebagai ide atau dokumen.
Karena itu, BAPPERIDA melakukan pembinaan, pendampingan, fasilitasi, monitoring dan evaluasi serta memperkuat kolaborasi antarperangkat daerah.
Semangat tersebut juga diterapkan melalui Laboratorium Inovasi yang dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Melalui program tersebut, perangkat daerah didorong mengidentifikasi persoalan, merancang solusi, mengembangkan dan mengimplementasikan inovasi.
BAPPERIDA juga menjalankan berbagai ruang kompetisi dan pengembangan gagasan, di antaranya Kompetisi Inovasi TANGGUH dan ANDALAN, Lomba Karya Tulis Ilmiah, Bimbingan Teknis Inovasi dan BAPPERIDA Sapa Inovator.
“Yang ingin kami pastikan, inovasi tidak berhenti sebagai ide atau sekadar memenuhi indikator, tetapi benar-benar diterapkan, dikembangkan dan memberikan manfaat nyata,” ujarnya.
Dari Pelayanan hingga Kesehatan
Perjalanan inovasi Kabupaten Banjar juga memperlihatkan semakin beragamnya persoalan yang coba dijawab perangkat daerah.
Pada 2024, terdapat STAR BANJAR dari Disdukcapil, PADAT LANGSING dari Puskesmas Sungai Tabuk 3 untuk penanganan stunting serta MANIS LANGSATKU.
Kemudian pada kompetisi inovasi 2025, muncul BATASBIH FUKAHA, SIPALUI dan DEPE CANTIX.
BATASBIH FUKAHA berkaitan dengan persoalan pembiayaan kesehatan dan pengaduan jaminan kesehatan.
SIPALUI dari Puskesmas Martapura 1 dikembangkan untuk memudahkan pelayanan, termasuk pendaftaran dari rumah, antrean dan pemantauan obat.
Sedangkan DEPE CANTIX membawa edukasi pencegahan kanker serviks melalui pemberdayaan kader desa dengan pendekatan kreatif lokal.
Inovasi juga tumbuh dari masyarakat.
Di antaranya Telur Terbaper, Telur Asin Bawang Putih dan Serai, Kerupuk Telur Asin, Bagulao RPG, Bara Muda, SABANA hingga Arenovasi Muda.
Menurut Anna, kondisi tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari lingkungan birokrasi.
Masyarakat, kelompok milenial dan akademisi juga dapat menjadi sumber gagasan pembangunan.
Ada Batas Usia Inovasi
Di balik dorongan memperbanyak inovasi, terdapat pula ketentuan yang harus diperhatikan.
Inovasi yang dapat diikutsertakan dalam penilaian memiliki batas usia maksimal dua tahun, atau harus memiliki pengembangan maupun kebaruan apabila ingin kembali didaftarkan.
Artinya, inovasi yang sudah berjalan tidak cukup hanya dipertahankan.
Perlu ada pengembangan agar tetap memiliki nilai kebaruan dan relevan dengan persoalan yang dihadapi.
“Target kami bukan hanya memperbanyak jumlah inovasi, tetapi memastikan inovasi tersebut benar-benar diterapkan, memberikan manfaat dan dapat direplikasi,” tegas Anna.
Target 64 Inovasi pada 2026
Pada 2026, penguatan budaya inovasi kembali dilakukan melalui Laboratorium Inovasi.
Targetnya mencapai 64 inovasi daerah.
Namun, melihat perjalanan IID Kabupaten Banjar, target tersebut bukan hanya persoalan mengejar angka.
Data 2023 hingga 2025 justru menunjukkan bahwa jumlah inovasi dan skor IID tidak selalu bergerak searah.
Jumlah inovasi tertinggi terjadi pada 2024 dengan 80 inovasi, tetapi skor hanya 57,75.
Sementara pada 2025 jumlah inovasi turun menjadi 59, namun skor meningkat menjadi 60,71.
Bagi Anna, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi harus memiliki kualitas dan dampak yang dapat dibuktikan.
Karena itu, inovasi ke depan diharapkan tidak hanya mendapatkan pengakuan dalam kompetisi, tetapi mampu memperbaiki pelayanan, menyelesaikan persoalan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Di usia ke-76 Kabupaten Banjar, inovasi akhirnya tidak lagi sekadar soal berapa banyak gagasan baru yang lahir.
Lebih penting adalah berapa banyak persoalan yang berhasil diselesaikan melalui gagasan tersebut.





