Film Kuyank sebagai Metafora Kekerasan Sosial terhadap Perempuan

BANJARBARU, dnusantarapost.com — Dalam film Kuyank, sosok kuyang tidak hanya diposisikan sebagai makhluk gaib, tetapi juga sebagai simbol dari tekanan sosial yang dialami perempuan, khususnya dalam relasi keluarga dan pernikahan.

Berlatar di Desa Sungai Tinggi, kawasan Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, film Kuyank membawa penonton ke wilayah tua Banjar yang lekat dengan mitos, kepercayaan, serta kehidupan masyarakat sungai. 

Bacaan Lainnya

Latar ini tidak dihadirkan sekadar sebagai ruang visual, melainkan sebagai fondasi budaya yang membentuk konflik cerita.

Kehidupan masyarakat sungai digambarkan melalui jukung yang menyusuri aliran air serta deretan rumah lanting yang berdiri di atas sungai. Sungai menjadi nadi kehidupan, ruang mobilitas, ruang domestik, sekaligus ruang simbolik yang kelak memainkan peran penting dalam tragedi cerita.

Film ini menampilkan sejumlah praktik adat Banjar yang masih hidup di tengah masyarakat. Salah satunya adalah badatang, prosesi lamaran yang dilakukan keluarga Badri kepada Rusmiati. 

Badatang tidak berdiri sendiri, melainkan diiringi dengan babilangan, perhitungan adat yang dipercaya memberi peringatan atas kecocokan pasangan. 

Hasil babilangan menyebut hubungan Badri (Rio Dewanto) dan Rusmiati (Putri Intan Kasela) berada pada bilangan habu di atas tunggul sebuah peringatan tentang hubungan yang dianggap rapuh jika dipaksakan.

Namun, peringatan adat tersebut berhadapan langsung dengan kehendak pribadi. Badri tetap ingin menjadikan Rusmiati sebagai istrinya. 

Tekadnya telah taikat mati, memperlihatkan ketegangan antara norma adat dan pilihan individu sebuah benturan yang menjadi benih konflik utama film.

Selain badatang dan babilangan, Film Kuyank juga menampilkan bausung, tradisi perkawinan khas masyarakat Nagara. 

Dalam prosesi ini, pengantin diusung sebagai simbol penghormatan sekaligus peralihan menuju fase hidup baru. 

Bausung menandai keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar, serta menegaskan nilai kebersamaan dalam masyarakat Banjar. Kehadirannya memperkuat latar budaya film, menjadikan tradisi bukan sekadar ornamen, tetapi bagian dari struktur cerita.

Di balik kuatnya tradisi, film ini juga memotret posisi perempuan dalam institusi pernikahan. Rusmiati, sebagai seorang istri, digambarkan berada dalam posisi rentan di tengah struktur keluarga patriarkial. 

Tekanan datang terutama dari ibu mertua, yang membebankan seluruh pekerjaan domestik kepada Rusmiati dan menempatkannya sebagai pihak yang harus membuktikan nilai dirinya melalui kemampuan melahirkan keturunan.

Tubuh perempuan, dalam konteks ini, tidak sepenuhnya menjadi milik dirinya sendiri. Ia menjadi objek penilaian, pengawasan, dan tuntutan sosial. 

Ketika Rusmiati tak kunjung memiliki anak, tekanan tersebut berkembang menjadi wacana yang lebih ekstrem, keinginan ibu mertua agar Badri menikah lagi. 

Pada titik ini, film memperlihatkan bagaimana strata sosial perempuan dalam pernikahan begitu rapuh, mudah tergeser ketika dianggap gagal memenuhi fungsi reproduktif.

Narasi ini merefleksikan ketakutan kolektif terhadap perempuan yang dianggap “menyimpang” dari peran ideal, yaitu istri yang patuh, subur, dan tidak membantah. 

Horor dalam Film Kuyank perlahan bergeser dari ranah gaib menuju ranah sosial. 

Dalam film ini, kuyang digambarkan lahir dari tekanan yang terus-menerus dan ketidakmampuan lingkungan memahami penderitaan perempuan.

Di sisi lain, film tidak menempatkan Badri sebagai sosok antagonis. Ia digambarkan sebagai suami yang bertanggung jawab dan memiliki afeksi kuat terhadap Rusmiati. 

Badri berulang kali berusaha menengahi konflik antara istrinya dan sang ibu, serta menolak rencana keluarga untuk mencarikannya istri lain. Namun, posisinya tetap terjepit antara dua otoritas, sebagai anak dan sebagai suami.

Tragedi mencapai puncaknya ketika Rusmiati ketahuan warga saat menjelma menjadi kuyang. Dalam situasi genting itu, Badri kembali memilih melindungi istrinya. 

Ia mendorong tong berisi tubuh Rusmiati ke sungai, ruang yang sejak awal menjadi saksi kehidupan mereka sebagai upaya terakhir menyelamatkannya. 

Sementara itu, Badri merelakan dirinya berada di rumah lanting yang dilalap api.

Akhir cerita ini menutup film dengan ironi yang getir. Cinta yang teguh berujung pengorbanan, sementara Rusmiati perempuan yang sejak awal ditekan, dinilai, dan disingkirkan menjadi korban dari ketakutan kolektif masyarakat. 

Kuyang pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang makhluk gaib, tetapi tentang bagaimana tradisi, tekanan sosial, dan stigma terhadap tubuh perempuan dapat melahirkan film horor yang paling manusiawi. (nurul octaviani)

Pos terkait