Pemerintah Provinsi Kalsel Peringati Isra Mir’aj 1447 H

Banjarmasin, dnusantarapost.com – Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, H. Hasnuryadi Sulaiman mengajak seluruh pegawai agar menyelami makna Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1447 H / 2026 M di lingkungan Pemprov Kalsel yang berlangsung di Gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin, pada Jum’at (16/1) pagi.

Peringatan Isra Mir’aj 1447 H ini menghadirkan penceramah Habib Jindan Bin Novel dan H. Muhammad Qomaruddin atau biasa akrab disala Guru Busu.

‎Syair-syair Maulid Habsyi dari Habib Muhsin Al Hamid, cucu Habib Sholeh Al Hamid Tanggul itu menggema di Gedung Mahligai Pancasila. Kemudian, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yakni Zaidi Herniansyah Qori Terbaik MTQN 2025 Tilawah Anak-anak Putera dari Kafilah Kalimantan Selatan.

‎Turut hadir Kabinda Kalsel, Brigjen Pol. Nurrullah; Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kalimantan Selatan, H. Muhammad Syarifuddin; Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalsel, Drs. H. Muhammad Tambrin serta jajaran SKPD Kalsel lainnya. Adapun, para ulama yang berhadir yakni Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan dan KH. Muhammad Qomaruddin (Guru Busu), para alim ulama lainnya.

‎Kegiatan ini bertajuk: “Selamat memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Semoga perjalanan suci Baginda Rasulullah menjadi pengingat bagi kita untuk terus memperbaiki kualitas sholat dan mempererat hubungan kita dengan Sang Pencipta.”

‎”Pada hari ini kita memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj. Isra Mi’raj merupakan sebuah perjalanan agung Rasulullah SAW, isra adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa. Setelah itu dilanjutkan dengan Mi’raj, yaitu Rasulullah diangkat ke langit,” sampai Gubernur Kalsel, H. Muhidin saat memberikan sambutan.

‎Cerita itu disampaikan Gubernur H. Muhidin bahwa Rasulullah naik dari langit pertama, kedua, ketiga, hingga langit ketujuh. Hingga akhirnya Baginda Nabi Muhammad SAW sampai di Sidratul Muntaha, tempat Rasulullah menerima perintah salat langsung dari Allah SWT.

‎”Kisah Isra Mi’raj ini setiap tahun kita peringati dan dengarkan, bukan sekadar sebagai cerita, tetapi sebagai pelajaran penting bagi kehidupan kita. Dalam perjalanan tersebut, Allah SWT memperlihatkan kepada Rasulullah berbagai kejadian, tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta gambaran balasan bagi manusia, baik di surga maupun di neraka, agar menjadi peringatan dan pelajaran bagi umatnya,” ungkap Gubernur H. Muhidin.

‎‎Penceramah Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan dalam tausiyahnya bahwa pentingnya kedudukan masjid dalam Islam serta makna mendalam dari peristiwa Isra dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW. Hal itu disampaikan dalam sebuah tausiyah yang membahas perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsa sebagai perjalanan penuh keberkahan dan pelajaran bagi umat manusia.

‎Pimpinan Yayasan Al Fachriyah, Tangerang, Banten itu menjelaskan bahwa Allah Ta‘ala secara khusus menyebut perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsa, yang merupakan masjid yang diberkahi. Menurutnya, Masjidil Haram memiliki keutamaan yang sangat luar biasa, sementara Masjid al-Aqsa adalah tempat yang Allah limpahi keberkahan di sekelilingnya.

‎Habib Jindan juga mengungkapkan bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai masjid pertama yang diletakkan di muka bumi. Sebagian ulama berpendapat masjid tersebut diperuntukkan bagi manusia, sementara pendapat lain menyatakan masjid itu telah ada bahkan sebelum manusia diciptakan, termasuk sebelum para malaikat diperintahkan untuk menghadapinya.

‎“Dari Rasulullah SAW kita memahami betapa pentingnya perintah dan kedudukan masjid. Masjid adalah pusat ilmu dan ibadah,” ujar Habib Jindan.

‎‎Adapun penceramah KH. Muhammad Qomaruddin atau yang akrab disapa Guru Busu menerangkan kisah peristiwa Isra Mi’raj merupakan kejadian nyata yang sarat dengan pelajaran mendalam bagi umat manusia. Menurut Guru Busu, dalam peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai gambaran yang penuh makna, bukan sekadar tontonan, melainkan pelajaran tentang kehidupan, tanggung jawab, dan amanah manusia di dunia.

‎“Salah satu gambaran yang diperlihatkan kepada Rasulullah adalah sekelompok manusia yang memikul kayu di atas pundak mereka. Beban itu sudah sangat berat hingga sebenarnya mereka tidak lagi sanggup memikulnya, namun anehnya mereka justru meminta agar bebannya ditambah lagi,” tutur Guru Busu.

Pos terkait