BANJARBARU, dnusantarapost.com – Sejak menapaki dunia jurnalistik pada 2017, Devi Farah telah berpindah media sebanyak tiga kali. Namun, di tempatnya bekerja saat ini, ia merasa menemukan rumah yang mendukung perjalanan profesinya sebagai jurnalis perempuan di daerah.
“Lingkungan kerja yang suportif dan rekan-rekan kru yang berbagi pengalaman berharga membuat saya bertahan. Di sini, saya merasa kemampuan jurnalistik saya benar-benar berkembang,” tuturnya.
Bagi Devi, profesi jurnalis bukan hanya soal mencari berita, tetapi juga soal menemui orang-orang yang tak terjamah sorotan kamera atau linimasa media sosial. Ia kerap bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat, aktivis akar rumput, hingga pionir perubahan dari kalangan yang terpinggirkan.
“Mencari mereka seperti menemukan permata tersembunyi di tengah hutan atau kawasan kumuh. Ini tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Namun, di balik romantisme mencari berita, Devi juga harus menghadapi kenyataan pahit yang tak jarang menghampiri jurnalis perempuan. Tekanan dari pihak-pihak yang merasa terusik dengan pemberitaannya, hingga pelecehan seksual verbal masih menjadi tantangan yang nyata.
“Pelecehan secara verbal itu masih sering terjadi, dan ini menjadi isu serius yang terus saya diskusikan dengan rekan-rekan jurnalis perempuan lainnya. Kita masih harus berjuang untuk ruang yang benar-benar aman,” jelasnya.
Devi juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan dalam liputan, terutama bagi jurnalis perempuan yang harus turun ke wilayah rawan atau konflik. Meski secara umum ia merasa aman saat peliputan harian, kehati-hatian tetap jadi prioritas.
“Jika harus meliput di wilayah yang rawan, saya selalu meminta pengamanan tambahan. Keselamatan tetap yang utama,” tegasnya.
Dalam dunia pers yang terus berubah, Devi punya satu prinsip kuat: berita tak sebanding dengan nyawa.
“Berita yang ‘seksi’ dan panas bisa jadi kebanggaan, tapi saya selalu mengingatkan teman-teman perempuan untuk tidak mengabaikan keselamatan diri dan keluarga. Tak ada berita yang layak dibayar dengan nyawa,” pungkasnya.
Devi Farah adalah satu dari sedikit jurnalis perempuan yang tidak hanya bertahan, tapi juga menyuarakan pentingnya keselamatan dan ruang yang aman bagi perempuan dalam dunia pers. Di tengah tantangan yang tak ringan, ia tetap berjalan, menulis, dan menjadi suara bagi yang tak bersuara. (nurul octaviani)






