Dinkes Banjarbaru Edukasi Petugas dan Warga Binaan Lapas tentang Bahaya Hantavirus

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?

BANJARBARU, dnusantarapost.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru menggelar penyuluhan mengenai Hantavirus di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banjarbaru, Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular, khususnya di lingkungan dengan tingkat interaksi yang tinggi seperti lapas.

Penyuluhan yang berlangsung tersebut diikuti petugas dan warga binaan. Hadir sebagai narasumber Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarbaru, dr. Siti, didampingi jajaran bidang terkait, yakni Kasi Surveilans dan Imunisasi serta Plt Kasi P2PM yang juga menjabat sebagai Kasi Kesehatan Lingkungan.

Bacaan Lainnya

Kegiatan dibuka oleh perwakilan Kepala Lapas Kelas IIB Banjarbaru. Dalam sambutannya, pihak lapas menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan edukasi kesehatan tersebut dan menegaskan bahwa penyuluhan serupa dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk penguatan upaya pencegahan penyakit.

Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr. Siti menekankan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai Hantavirus agar langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

“Hantavirus bukan penyakit baru, namun masih banyak masyarakat yang belum mengenalnya. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting agar kita memahami risiko penularan dan cara pencegahannya,” ujarnya.

Dalam paparannya, dr. Siti menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan air liur, urine, maupun feses tikus yang mengandung virus.

Ia mengingatkan bahwa tikus pembawa Hantavirus umumnya tidak menunjukkan gejala sakit sehingga keberadaan virus sulit dikenali secara kasat mata. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

Menurutnya, gejala awal infeksi Hantavirus sering menyerupai penyakit influenza, seperti demam, nyeri otot, dan tubuh lemas. Namun pada kasus yang berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius hingga gagal ginjal.

“Meskipun jumlah kasusnya relatif tidak banyak, tingkat fatalitas Hantavirus cukup tinggi. Pada kondisi berat, angka kematiannya dapat mencapai sekitar 38 persen,” jelasnya.

Untuk mengurangi risiko penularan, Dinkes Banjarbaru mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal maupun tempat kerja.

Saat melakukan aktivitas bersih-bersih di area yang berpotensi menjadi sarang tikus, masyarakat disarankan menggunakan masker dan sarung tangan. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menyimpan makanan dan minuman dalam kondisi tertutup juga menjadi langkah sederhana yang efektif untuk mencegah penularan.

Melalui kegiatan ini, Dinkes Banjarbaru berharap kesadaran masyarakat terhadap penyakit zoonosis dapat terus meningkat sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih optimal. Edukasi kesehatan dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam meminimalkan risiko penyebaran penyakit menular, terutama di lingkungan padat aktivitas seperti lembaga pemasyarakatan. (nurul octaviani)

Pos terkait