MARTAPURA, dnusantarapost.com — Sebanyak 34 insiden gigitan hewan penular rabies (GHPR) dilaporkan di Kabupaten Banjar hingga pertengahan Juli 2025. Jumlah tersebut dihimpun dari sejumlah puskesmas dan rumah sakit yang melaporkan kejadian serupa.
Meski tergolong banyak, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menegaskan bahwa kasus-kasus tersebut belum tentu positif rabies. Penanganan yang dilakukan bertujuan untuk mencegah kemungkinan penularan virus mematikan tersebut.
“Tidak semua pasien berasal dari Kabupaten Banjar. Ada juga yang berdomisili di wilayah tetangga seperti Banjarbaru, namun ditangani di RSUD Ratu Zalecha dan tetap kami laporkan,” ujar Andy, Pengelola Program Zoonosis Dinkes Banjar.
Andy menambahkan, pasien memiliki kebebasan memilih fasilitas kesehatan sesuai kenyamanan mereka. RSUD Ratu Zalecha menjadi salah satu pilihan utama untuk pelayanan medis gigitan hewan.
Yang menggembirakan, hingga kini tidak ada korban jiwa dari seluruh kasus gigitan yang dilaporkan. “Semua pasien berhasil pulih tanpa komplikasi berat,” ujarnya.
Dalam laporan tersebut, kucing tercatat sebagai hewan yang paling banyak menggigit, disusul oleh anjing dan monyet. Gigitan berasal dari hewan peliharaan maupun yang hidup bebas di lingkungan masyarakat.
Edukasi dan Pencegahan Terus Digencarkan
Dinkes Banjar terus mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi penularan rabies, terutama saat berhadapan dengan hewan liar atau peliharaan yang tidak divaksin.
Andy menyoroti pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh para petugas atau relawan yang sering berinteraksi langsung dengan hewan, seperti personel pemadam kebakaran dan petugas lapangan dari Dinas Pertanian.
“Tim Damkar kerap kali membantu penanganan hewan liar, begitu pula Dinas Pertanian yang rutin melaksanakan vaksinasi rabies pada hewan peliharaan,” tuturnya.
Program vaksinasi rabies untuk hewan memang berada di bawah koordinasi Dinas Pertanian. Vaksinasi ini dilakukan secara gratis dan menyasar berbagai lokasi umum, seperti pasar, dengan mobil layanan keliling.
Tujuan dari vaksinasi tersebut adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan terhadap virus rabies, sehingga risiko penyebaran ke manusia dapat ditekan.
Andy juga memberikan panduan penanganan awal jika tergigit hewan yang diduga membawa rabies. “Segera cuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama 10 hingga 15 menit. Tindakan ini bisa mencegah penularan hingga 80 persen. Setelah itu, segeralah ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan warga agar waspada terhadap gejala rabies pada manusia, seperti demam tinggi, takut air, takut cahaya, dan takut angin.
Sebagai penutup, Andy menyerukan pentingnya tanggung jawab pemilik hewan peliharaan. “Kami mengimbau seluruh warga Banjar agar rutin memvaksin kucing dan anjing mereka. Ini bukan hanya untuk keselamatan hewan, tetapi juga melindungi keluarga dari bahaya rabies,” tegasnya. (nurul octaviani)






