BARABAI, dnusantarapost.com — Perekonomian Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, masih bertumpu pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Namun, kontribusi sektor tersebut sedikit menurun dari 23,59 persen pada 2021 menjadi 23,18 persen pada 2024, berdasarkan data PDRB HST.
Kepala Bapperida HST Muhiddin mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan sektor pertanian, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga melalui hilirisasi.
Menurut dia, potensi pertanian yang besar perlu memberikan nilai tambah lebih bagi masyarakat, khususnya petani.
“Ekonomi HST masih bertumpu pada pertanian. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah bagaimana hasil pertanian ini bisa memberikan nilai tambah dan tidak berhenti sebagai bahan mentah,” ujarnya dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) pendirian BUMD, Rabu (7/10/2026).
Selain pertanian, Muhiddin memaparkan perkembangan sejumlah sektor ekonomi lainnya. Sektor industri pengolahan mengalami penurunan kontribusi dari 14,08 persen pada 2021 menjadi 12,63 persen pada 2024.
Sebaliknya, sektor perdagangan meningkat dari 11,76 persen menjadi 12,63 persen. Sektor transportasi dan pergudangan juga naik dari 4,63 persen menjadi 5,44 persen dalam periode yang sama.
Menurut Muhiddin, perubahan kontribusi sejumlah sektor tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi HST untuk memperkuat sektor ekonomi produktif.
Salah satu strategi yang didorong ialah memperpendek rantai pasok hasil pertanian melalui peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai off-taker atau penyerap hasil produksi petani.
Selama ini, kata Muhiddin, distribusi hasil pertanian masih melewati sejumlah mata rantai, mulai dari petani, pengepul, pedagang besar, pedagang eceran hingga konsumen.
“Setiap perantara mengambil margin. Dengan rantai yang panjang, bagian yang diterima petani menjadi lebih kecil,” jelasnya.
Karena itu, skema yang ditawarkan adalah petani menyerahkan hasil panen secara langsung kepada BUMD. Selanjutnya, BUMD mengelola dan mendistribusikan hasil tersebut ke pasar atau konsumen.
Model tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian harga bagi petani, memperpendek rantai distribusi, sekaligus menjaga ketersediaan pangan daerah.
“BUMD diharapkan bisa menjadi off-taker hasil pertanian. Dengan begitu, distribusi lebih pendek dan petani memiliki kepastian pasar,” pungkasnya. (Alf/Muhajir)





