Dandim 1006/Banjar Tegaskan Tak Boleh Ada Pembakaran Lahan, 200 Personel Siaga Karhutla

BANJARBARU, dnusantarapost.com — Kodim 1006/Banjar menegaskan tidak boleh ada masyarakat yang melakukan pembakaran lahan, baik secara sengaja maupun karena kelalaian, di tengah kondisi musim kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dandim 1006/Banjar, Letkol Inf B.P Prabujaya, S.Hub, Int., M.han. mengatakan, kondisi alam yang saat ini cukup kering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran dengan alasan apa pun.

“Tidak boleh ada orang yang berusaha untuk membakar lahan dengan alasan apa pun, karena dampak atau impact-nya akan sangat besar,” tegasnya.

Menurutnya, karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian materiil maupun personel serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Untuk mengantisipasi karhutla di wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru, Kodim 1006/Banjar menyiagakan sekitar 200 personel atau dua Satuan Setingkat Kompi (SSK).

Ratusan personel tersebut disiagakan secara bergantian setiap hari untuk merespons titik-titik kebakaran yang muncul di dua wilayah tersebut.

“Karena memang titiknya banyak, terkadang kita harus membagi berdasarkan skala prioritas,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pada Jumat sebelumnya terdapat sekitar sembilan titik kebakaran yang terjadi di wilayah Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Kondisi tersebut membutuhkan konsentrasi dan tenaga besar dari seluruh unsur yang terlibat.

Penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama dengan berbagai instansi, di antaranya Kepolisian, BPBD, Manggala Agni, relawan hingga Basarnas.

Meski demikian, Dandim mengakui masih terdapat keterbatasan peralatan, terutama kendaraan pemadam dan alat pelindung diri (APD) bagi personel.

“Keterbatasan itu bukan menjadi sebuah halangan untuk kita tetap berbuat dan berupaya,” katanya.

Titik Rawan Karhutla

Sejumlah kawasan disebut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, di antaranya wilayah Pengayuan, kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor dan Cempaka.

Kebakaran di sekitar kawasan bandara menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila asap yang ditimbulkan semakin pekat.

Sementara di Cempaka, beberapa titik api juga sempat muncul di sekitar kawasan permukiman.

Letkol Inf B.P Prabujaya, S.Hub, Int., M.han. menyebut, sejauh penanganan di lapangan, kebakaran yang terjadi masih dapat ditangani dalam waktu relatif cepat.

“Alhamdulillah kebakaran ini bisa kita selesaikan. Tidak ada kebakaran yang sampai berhari-hari,” ujarnya.

Ia mengatakan, sinergi antarinstansi menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penanganan setiap titik api.

Terkait kedatangan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Dandim menyebut tidak ada arahan khusus selain penekanan agar seluruh unsur tetap memperkuat sinergi dalam penanganan karhutla.

Ia juga menyampaikan bahwa kondisi karhutla di Kalimantan Selatan masih relatif lebih kecil dibandingkan sejumlah wilayah lain di Kalimantan.

“Memang setiap hari ada kebakaran, saya tidak bisa menampik hal tersebut. Tapi alhamdulillah kebakaran ini bisa kita selesaikan,” katanya.

Asap Berdampak pada Kesehatan

Selain ancaman terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat, Dandim mengingatkan dampak kabut asap terhadap kesehatan.

Ia menyebut, dalam beberapa hari terakhir masyarakat di Banjar dan Banjarbaru sempat merasakan dampak asap pada pagi hari.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena asap dari kebakaran pada hari sebelumnya berkumpul pada pagi hari.

“Yang jelas kabut asap itu sangat berdampak kepada kesehatan masyarakat, khususnya anak kecil,” ujarnya.

Ia pun kembali mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, terlebih pada kondisi cuaca yang kering.

“Masyarakat, tolong jangan melakukan tindakan pembakaran, apalagi yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, karena dampaknya nanti besar,” tegasnya. (nurul)

Pos terkait