Dari Banua ke Istana Negara, Pataka Kesultanan Banjar Kembali Ikut Kirab Kemerdekaan

MARTAPURA, dnusantarapost.com – Dua anggota TNI dari jajaran Korem 101/Antasari mendapat tugas membawa nama Kesultanan Banjar dalam rangkaian kirab pengambilan dan pengembalian Duplikat Bendera Pusaka serta Teks Proklamasi di Istana Negara, 17 Agustus 2026 mendatang.

Mereka yakni Serda Rahmad Doni dari Kodim 1006/Banjar, dan Praka Tomy Tri Atmaja, dari Kodim 1007/Banjarmasin.

Bacaan Lainnya

Keduanya ditunjuk sebagai perwakilan kerajaan dalam prosesi tersebut berdasarkan Surat Perintah Kodam XXII/Tambun Bungai melalui Korem 101/Antasari.

Yang membuat tugas tersebut istimewa, dalam prosesi itu turut dibawa Pataka Kesultanan Banjar, bendera kebesaran yang menjadi simbol identitas Kesultanan Banjar.

Staff Khusus Kesultanan Banjar Bidang Humas, Ahmad Yusuf, mengatakan keikutsertaan pataka dalam rangkaian peringatan kemerdekaan di Istana Negara sebenarnya bukan kali pertama.

“Pataka Kesultanan Banjar mulai diikutsertakan dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara sejak 2016 dan terus berlanjut hingga 17 Agustus 2026,” ujar Ahmad Yusuf, Rabu (12/8/2026)

Menurutnya, setiap tahun Kesultanan Banjar mendapatkan undangan resmi pemerintah pusat untuk berpartisipasi dalam prosesi yang melibatkan perwakilan kerajaan dan kesultanan Nusantara.

Bagi Kesultanan Banjar, kehadiran pataka dalam prosesi kenegaraan bukan hanya persoalan simbol. Ada sejarah panjang yang ikut dibawa bersama bendera tersebut.

“Ini menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran kerajaan dan kesultanan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan,” katanya.

Sebelum diberangkatkan menuju Istana Negara, Pataka Kesultanan Banjar juga tidak serta-merta diserahkan kepada utusan. Terlebih dahulu dilaksanakan ritual adat Batapung Tawar sebagai bagian dari prosesi sakral pelepasan.

Ritual tersebut menjadi bentuk doa, restu dan permohonan perlindungan sebelum pataka dibawa menjalankan tugas dalam rangkaian peringatan kemerdekaan.

Pataka yang dibawa juga merupakan bendera asli dengan logo Kesultanan Banjar. Lambang tersebut mulai digunakan sejak Kesultanan Banjar dibangkitkan kembali pada 2010 dan selama ini biasa dikibarkan dalam berbagai kegiatan adat.

Di balik lambang kebesaran itu terdapat makna filosofis yang menggambarkan kedaulatan adat, kewibawaan pemimpin serta keteguhan akidah Islam yang menjadi bagian dari fondasi masyarakat Banjar.

Ahmad Yusuf menyebut kehadiran pataka di Istana Negara juga menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para leluhur Kesultanan Banjar dalam menghadapi penjajahan jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Negara menghormati perjuangan para pendahulu Kesultanan Banjar yang telah mengorbankan jiwa dan raga dalam melawan penjajahan,” ujarnya.

Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai kebanggaan simbolik. Masyarakat Banjar diharapkan semakin mengenal dan mencintai identitas budayanya, sekaligus menjaga semangat kebangsaan.

“Semoga masyarakat Banjar kembali menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas dan budayanya, memperkuat kecintaan kepada tanah air, menjaga persatuan, melestarikan budaya dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta pengabdian bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. (nurul)

Pos terkait