BANJARMASIN, dnusantarapost.com – Fenomena kafe 24 jam di Banjarmasin kini menjadi pilihan sejumlah mahasiswa untuk mengerjakan tugas hingga begadang. Fasilitas seperti Wi-Fi, kursi nyaman, pendingin ruangan, makanan, dan suasana ramai menjadi alasan mereka memilih kafe sebagai tempat belajar alternatif, Minggu (9/8/2026).
Aisya, mahasiswi semester tujuh Universitas Lambung Mangkurat (ULM), mengaku terbantu dengan kehadiran kafe yang beroperasi sepanjang hari. Ia memilih kafe karena merasa lebih nyaman belajar di tengah suasana ramai dibandingkan di kamar kos.
“Kalau di kamar kos tuh, Kak, sumpek. Kayak enggak ada inspirasi gitu kalau saya, saya suka keramaian. Sangat membantu, apalagi tempatnya pewe, Wi-Fi lancar, dan ada makanan beratnya,” ungkap Aisya.
Untuk menunjang aktivitas belajar hingga malam, Aisya menyebut sejumlah fasilitas yang menjadi pertimbangannya.
“Fasilitas yang dicari Wi-Fi, terus kursinya empuk, sama AC-nya dingin,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Puspita, mahasiswi ULM. Ia mengatakan suasana ramai di kafe justru membantunya berkonsentrasi saat mengerjakan tugas.
“Kalau di kos sepi, Kak. Kalau aku pribadi jadi perlu dengar suara. Kebetulan tipe yang ramai bisa kerja gitu, bukan yang sepi,” tuturnya.
Namun, kebiasaan menghabiskan waktu hingga malam di kafe juga berdampak pada pola tidurnya.
“Untuk pola tidur berantakan juga sih, Kak, sebetulnya. Cuma jadi agak ngantuk sedikit kalau lagi ada kelas,” jelas Puspita.
Ia berharap semakin banyak pilihan kafe 24 jam di Banjarmasin sehingga mahasiswa memiliki lebih banyak alternatif tempat untuk beraktivitas.
“Harapannya mungkin lebih banyak pilihan kafe 24 jam biar enggak itu-itu aja,” katanya.
Dari sisi pengeluaran, mahasiswa juga menyesuaikan durasi nongkrong dengan kemampuan finansial. Ahmad, seorang mahasiswa pengunjung kafe, mengatakan dirinya biasanya menghabiskan waktu lebih lama di kafe pada akhir pekan.
“Kalau nongkrong sampai pagi itu weekend aja. Kalau hari biasa paling dari habis jam 8-an sampai jam 12 malam,” kata Ahmad.
Ia memperkirakan pengeluaran untuk nongkrong di kafe mencapai Rp20.000 pada hari biasa. Sementara pada akhir pekan, pengeluarannya bisa mencapai Rp50.000.
“Biaya weekdays itu Rp20.000 maksimal, kalau weekend ya sampai Rp50.000,” terangnya.
Menurut Ahmad, fasilitas yang paling dibutuhkan ketika menghabiskan waktu berjam-jam di kafe adalah tempat untuk mengisi daya perangkat.
“Fasilitas yang paling dicari charger-an,” ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian mahasiswa, kafe 24 jam di Banjarmasin tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang alternatif untuk mengerjakan tugas dan beraktivitas hingga malam.
Meski menawarkan suasana dan fasilitas yang mendukung, pengalaman para mahasiswa tersebut juga menunjukkan adanya konsekuensi terhadap pola tidur, terutama bagi mereka yang terbiasa beraktivitas hingga dini hari. (Alf/Vina)





