PELAIHARI, dnusantarapost.com – Pemerintah Kabupaten Tanah Laut memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi kemarau datang lebih awal.
Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar secara daring di Lounge VIP Setda Tanah Laut, Kamis (2/4/2026), dipimpin Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dr. Ir. Ahmad Khairin
Berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, musim kemarau diperkirakan berlangsung sejak Mei hingga pertengahan Oktober 2026, dengan puncak pada Agustus.
Sejumlah wilayah di Tanah Laut seperti Kurau, Bumi Makmur, dan Kintap diprediksi mengalami kemarau lebih panjang dengan curah hujan di bawah normal, bahkan mencapai 19–21 dasarian.
“Wilayah tersebut berpotensi mengalami kemarau panjang, sehingga perlu antisipasi serius karena berdampak pada ketersediaan air dan meningkatnya risiko kebakaran,” ujar Ahmad Khairin.
Pemkab Tanah Laut, lanjutnya, akan memprioritaskan efisiensi pengelolaan air melalui optimalisasi embung dan kolam penampungan.
Selain itu, petani didorong menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas yang lebih tahan kekeringan.
Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga ditingkatkan, termasuk dengan melibatkan sektor swasta dalam mendukung kesiapan sarana dan prasarana di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Tanah Laut, Aspi Setia Rahman, mengatakan pihaknya segera melakukan koordinasi lintas sektor.
“Koordinasi dengan camat, instansi teknis hingga pemerintah desa akan dilakukan untuk menentukan langkah teknis di lapangan,” ujarnya.
Pemkab Tanah Laut berharap langkah terpadu yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dapat menekan dampak kemarau 2026 serta memperkuat ketahanan daerah terhadap ancaman kekeringan dan karhutla. (nurul octaviani)






