BANJARMASIN, dnusantarapost.com – Industri kerajinan kuningan di Banjarmasin semakin terdesak oleh perkembangan zaman dan tingginya biaya produksi. Dari puluhan pengrajin yang dulu aktif, kini hanya sedikit yang bertahan. Salah satunya adalah Anwar Fuadi, 60 tahun, pengrajin kuningan dari Kelayan Luar yang masih memproduksi kerajinan secara manual.
Anwar mengaku banyak rekannya berhenti karena tekanan ekonomi. Sementara ia tetap bertahan bukan hanya demi pemasukan, tetapi karena kecintaannya terhadap kerajinan ini.
“Kalau hanya mengandalkan penjualan, mungkin sudah lama saya ikut berhenti. Tapi ini pekerjaan turun-temurun, jadi saya merasa punya tanggung jawab untuk meneruskannya,” ujarnya ditemui pada Sabtu (29/11/2025).
Di bengkel kecil seluas 63 meter persegi, ia melakukan seluruh proses produksi mulai dari awal hingga akhir. Kuningan dilelehkan di tungku api tradisional, lalu dituangkan ke cetakan tanah liat. Setelah itu, bagian-bagian tertentu masih memerlukan pengukiran manual agar detailnya sesuai permintaan.
“Tekniknya memang tradisional, tapi justru itu yang bikin kualitasnya beda. Banyak pelanggan bilang hasil manual lebih hidup,” kata Anwar.
Kerajinan yang ia buat sangat beragam, mulai dari alat musik tradisional, aksesori pentas, perhiasan, sampai replika barang antik yang rumit. Harga barang pesanan bervariasi, mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah untuk karya dengan tingkat kesulitan tinggi.
Pelanggan Anwar datang dari berbagai daerah di Indonesia. Meski begitu, kondisi pasar belum kembali pulih sepenuhnya pascapandemi. Ia menyebut pendapatannya turun sekitar 30 persen dibanding sebelum 2020.
“Dulu pesanan bisa antre, sekarang lebih sepi. Tapi alhamdulillah masih ada yang mencari kerajinan kuningan asli,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah maupun komunitas seni ikut memberi perhatian lebih agar industri kerajinan kuningan tidak benar-benar mati di Banjarmasin.
“Kalau tidak ada regenerasi, lama-lama habis. Saya ingin ada yang meneruskan supaya kerajinan ini tetap hidup,” tutup Anwar.





