MARTAPURA, dnusantarapost.com– Kalau kamu pernah berkunjung ke kawasan sejuk dan asri Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, mungkin yang terlintas di benak hanyalah rindangnya pepohonan, hawa segar pegunungan, dan suasana alam yang menenangkan. Tapi siapa sangka, di balik hijaunya Tahura ini tersimpan cerita sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.
Dari Hutan Pendidikan hingga Jejak Penjajahan
Sebelum menjadi destinasi wisata seperti sekarang, kawasan ini dulunya adalah hutan pendidikan milik Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Tanahnya dipinjamkan oleh masyarakat melalui sosok tokoh lokal bernama Kai Jahari, dan dimanfaatkan sebagai tempat penelitian bagi mahasiswa dan akademisi.
Namun, jejak sejarahnya ternyata jauh lebih tua. Sekretaris Desa Mandingain Timur, Mahrus, menyebutkan bahwa sekitar tahun 1942–1943, saat masa penjajahan Belanda, wilayah ini sudah dikenal. Salah satu yang ikonik adalah keberadaan Gunung Basar, yang oleh masyarakat digambarkan sebagai gunung paling “ganas”.
Menurut cerita, kawasan ini sempat difungsikan sebagai tempat istirahat dan pengobatan. Bahkan, pada zamannya, sudah ada fasilitas seperti kolam renang alami dan tempat olahraga yang memanfaatkan aliran sungai serta kontur pegunungan. Beberapa bangunan tua yang kini bisa ditemukan di atas bukit, seperti pemandian dan benteng, disebut-sebut merupakan peninggalan era Belanda.
Jalan Bersejarah dan Kunjungan Tokoh Dunia
Tahura Sultan Adam tak hanya kaya cerita, tapi juga menyimpan jejak langkah para tokoh penting. Jalan utama yang membentang dari Simpang Tiga ke dalam kawasan ini dibangun secara gotong royong oleh warga, bahkan ada pekerja dari daerah Benua Enam yang diupah dengan rokok, beras, dan lauk.
Konon, Ratu Belanda Wilhelmina pun pernah menginjakkan kaki di kawasan ini, menandai pentingnya posisi Tahura secara historis.
Era Soeharto dan Lahirnya Nama “Tahura Sultan Adam”
Transformasi besar terjadi saat Presiden Soeharto datang berkunjung sekitar era 1980-an. Dalam kunjungan itu, nama “Tahura Sultan Adam” resmi disematkan, sebagai penghormatan terhadap Sultan Adam—salah satu raja besar dalam sejarah Kesultanan Banjar. Monumen peringatan kedatangan Soeharto pun masih bisa dijumpai di lokasi.
Wisata Alam dan Gajah Lampung
Perjalanan Tahura menjadi destinasi wisata semakin terasa ketika dua ekor gajah dari Lampung didatangkan oleh Dinas Kehutanan, bekerja sama dengan warga. Kehadiran gajah ini menandai awal mula geliat wisata di kawasan tersebut.
Meski sempat mengalami pasang surut jumlah kunjungan, pengelolaan Tahura kini terus diperbaiki dan revitalisasi kawasan pun dilakukan agar tetap menarik bagi wisatawan.
Kampung-Kampung Lama dan Cerita Rakyat
Tahura bukan hanya soal alam dan sejarah formal, tapi juga kaya akan cerita rakyat. Di masa lalu, kawasan ini jadi tempat persembunyian saat pergolakan Ibnu Hadjar. Beberapa sisa peluru bahkan masih ditemukan di sejumlah titik.
Mahrus juga menyebutkan bahwa daerah Mandiangin—yang kini jadi salah satu pintu masuk Tahura—dulu memiliki kampung-kampung kecil seperti Kampung Aturan, Liang Bidawang, dan Guntung Silim, yang menyimpan kisah dan misteri tersendiri.
“Banyak informasi saya dapat dari cerita orang tua zaman dulu. Sayangnya, tidak semua bisa dibuktikan karena keterbatasan dokumentasi dan sebagian tokohnya sudah tiada,” ujarnya.
Kini, Tahura Sultan Adam bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga museum hidup yang menyimpan napak tilas sejarah Banua. (nurul octaviani)






