Di usianya yang baru 22 tahun, Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary sudah berkali-kali menembus jarak dan waktu bersama ambulans. Bukan karena dibayar. Bukan karena diminta. Tapi karena ia percaya: menyelamatkan nyawa orang lain adalah panggilan hati, bukan soal profesi
BANJARBARU, dnusantarapost.com – Di balik sirine yang meraung dan mobil ambulans yang melaju tak kenal waktu di Kota Banjarbaru, ada sosok muda bernama Muhammad Aboe Dzar Al-Ghifary, atau yang akrab disapa AbueGhifary.
Bukan tenaga kesehatan, bukan juga pegawai instansi—Abue hanyalah seorang mahasiswa biasa yang memilih menjadi luar biasa, dengan satu alasan sederhana: membantu sesama manusia, tanpa pamrih.

Awal 2018 menjadi titik perjalanannya sebagai relawan. Waktu itu, Abue masih menjadi bagian dari Barisan Pemadam Kebakaran (BPK).
Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan menimpanya.
“Waktu itu aku ditolong sama kawan-kawan yang punya ambulans. Dari situ aku mulai ikut mereka, mulai belajar nyetir ambulans, ikut evakuasi, dan pelan-pelan ikut dalam kegiatan mereka,dan mendampingi kalau lagi antar pasien,” kenangnya, Minggu (29/6/2025)
Perjumpaan dengan para relawan ambulans mengubah jalan hidupnya. Tak lagi hanya memadamkan api, tapi juga ikut menjaga nyawa di jalanan.
“Kalau mereka kumpul atau belajar bareng, aku ikut juga. Dari situ belajar soal kedaruratan, etika, sampai rasa kemanusiaan.”
Usianya baru 22 tahun, namun jalanan sudah akrab dengan langkah dan perhatiannya. Ia sering ikut mengantar pasien dari berbagai titik di Kalimantan Selatan.
“Paling jauh ya ke Banjar, Banjarmasin, sampai Tanah Laut. Pernah juga evakuasi korban kecelakaan di Bati-Bati, terus dianter ke Tangkisung. Bahkan pernah sampai ke daerah pantai seperti Batakan,” tuturnya.
Namun satu hal yang membuat langkah Abue istimewa: ia dan rekannya tidak pernah meminta bayaran.
“Kami sama sekali gak minta tarif. Tapi kadang keluarga pasien suka ngasih makan atau minum sebagai ucapan terima kasih,” katanya, tersenyum.
Lalu, apa yang membuatnya rela begadang, menempuh perjalanan yang jauh, bahkan menghadapi situasi yang kadang penuh risiko?
Jawaban Abue sederhana, tapi menggetarkan:
“Karena niat membantu. Kita gak tahu kondisi orang itu, kaya atau tidak. Yang penting dia selamat dulu. Itu saja.”
—

Abue kini masih menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kalimantan (UNISKA MAB), jurusan Bimbingan Konseling.
Ia tinggal di kawasan Ratu Elok, Sungai Besar, Banjarbaru. Sembari kuliah, ia tetap meluangkan waktu menjadi relawan ambulans—membawa pasien, mengevakuasi korban kecelakaan dan mayat yang ditemukan bersama pihak kepolisian atau sekadar menjadi barisan penjaga di tengah situasi darurat.
Di usia muda, Abue telah memilih jalan yang tidak banyak ditempuh orang seusianya.
Bukan jalan penuh sorotan, bukan pula jalur yang menjanjikan popularitas atau imbalan besar.
Tapi justru di situlah maknanya tumbuh: karena tak semua panggilan harus dibayar dengan uang.
Ada yang cukup dibalas dengan nyawa yang tertolong, atau keluarga yang tak jadi berduka.
——
Cerita Abue mungkin sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itu, kita diingatkan: nyawa orang lain gak selalu menunggu prosedur. Kadang cuma butuh orang yang mau datang duluan, bukan yang berpangkat duluan.
Karena di luar sana, ada balita kejang dan harus bayar dulu supaya dapat ambulan agar bisa dirujuk ke rumah sakit.
Masih ada orang tua yang bingung, harus datang sebagai warga negara atau pelanggan transaksi nyawa dan layanan kesehatan.
Dan realitanya, kadang yang menyelamatkan bukan yang berseragam, tapi yang niatnya tulus meski tak digaji.
—
Kita butuh lebih banyak orang seperti Abue.
Bukan karena dia sempurna. Tapi karena dia paham:
kalau bisa diselamatkan sekarang, kenapa harus tunggu dibayar dulu?






