Berlari dari Sunyi, Menjemput Mimpi 

BANJARBARU, dnusantarapost.com – Di tengah gemuruh sorak penonton dan derap langkah kaki yang membelah lintasan, seorang gadis mungil tampak terbaring kelelahan. 

Di dadanya, deretan medali menggantung: emas, perak, dan juga harapan. 

Bacaan Lainnya

Wajahnya tenang, matanya terpejam, tapi ada senyum tipis yang tak bisa disembunyikan — senyum seorang juara yang lahir dari luka, namun memilih untuk tak menyerah.

Dialah Putri Febriana, lulusan SMAN 2 Banjarbaru tahun ajaran 2024/2025.

Namanya kini mulai dikenal sebagai atlet muda bertalenta asal Kalimantan Selatan.

Namun di balik prestasi gemilangnya, tersimpan perjalanan hidup yang tidak mudah — sebuah kisah tentang kehilangan, kesepian, dan perjuangan yang menyala sejak usia dini.

“Saya tidak pernah melihat wajah ibu atau ayah saya. Sejak bayi sudah dititipkan ke nenek,” ucap Putri lirih via telepon, Kamis (19/6/2025)

Sejak usia dua bulan, kedua orang tuanya berpisah, dan ia pun dibesarkan sepenuhnya oleh nenek dan kakeknya di Banjarbaru. 

Masa kecil yang seharusnya dipenuhi pelukan dan dongeng sebelum tidur, justru dijalani Putri dalam keheningan.

“Di awal memang sangat terpukul dan sedih, apalagi ketika pertama kali mendengar cerita nenek tentang orang tua saya,” kenangnya sambil menahan air mata.

Namun sunyi itu tak membuatnya rapuh. Justru di sanalah ia menempa ketangguhan. Ia memilih berlari — secara harfiah dan batiniah. Ketertarikannya pada dunia atletik bermula dari lomba lari saat masih taman kanak-kanak. 

“Entah kenapa dari TK suka ikut lomba lari dan Alhamdulillah selalu menang. Dari situlah rasa bangga itu tumbuh,” ujarnya.

Kemenangan demi kemenangan terus ia kumpulkan, bukan sebagai pelarian dari luka, melainkan sebagai bukti bahwa ia mampu. 

Hingga kini, total 15 medali dan penghargaan telah ia kantongi dari berbagai kejuaraan tingkat kota hingga provinsi.

Tak berhenti di situ, kini Putri tengah mempersiapkan diri untuk seleksi PON 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur dan Barat. Ia ingin membuktikan bahwa mimpinya tak akan dikalahkan oleh keadaan.

Lebih dari sekadar pelari cepat, Putri juga seorang pelajar berprestasi. Ia dikenal aktif di berbagai ajang nasional dan berhasil meraih tiga gelar bergengsi:

1. Duta Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan 2023, disahkan langsung oleh Menteri LHK Prof. Siti Nurbaya Bakar.

2. Semifinalis Duta Siswa Indonesia 2025, mewakili Kalimantan Selatan.

3. Duta Inspirasi Indonesia Kemenpora RI 2025, juga sebagai wakil Kalsel.

Secara akademik, Putri tak pernah keluar dari peringkat tiga besar sejak SD hingga SMP. 

Ia juga dikenal dengan kemampuan public speaking yang kuat, membuatnya sering dipercaya mewakili sekolah di berbagai forum pelajar.

Cita-citanya tak main-main. Ia ingin menjadi seorang Polwan, menembus IPDN, dan tetap aktif sebagai atlet andalan Kalimantan Selatan. 

Tapi lebih dari itu, Putri ingin membalas cinta dan pengorbanan orang-orang yang telah membesarkannya.

“Saya ingin membanggakan keluarga yang membesarkan saya. Dan saya juga ingin kuliah tanpa membebani biaya kepada mereka,” ujarnya tegas.

Dalam setiap langkah hidupnya, Putri membawa satu kutipan yang ia jadikan pegangan — kutipan dari novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata:

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”

Putri Febriana tidak hanya berlari di lintasan atletik. 

Ia sedang berlari mengejar masa depan, menjemput takdirnya — bukan sebagai gadis yang dikasihani, tapi sebagai simbol harapan bahwa siapa pun bisa melampaui keterbatasan jika tak berhenti bermimpi. (nurul octaviani)

Pos terkait