BANJARBARU, dnusantarapost.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengevaluasi kinerja pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan di 13 kabupaten/kota. Evaluasi tersebut dilakukan menyusul prediksi produksi padi Kalsel hingga November 2026 sebesar 1.168.020,98 ton, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1.176.763 ton.
Evaluasi tersebut dilaksanakan melalui Rapat Evaluasi Kinerja Dinas Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan Tahun 2026 di Banjarbaru, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh Dinas Pertanian dari 13 kabupaten/kota.
Rapat dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, yang diwakili Sekretaris Dinas, Saptono.
Dalam sambutannya, Saptono mengatakan evaluasi menjadi langkah penting untuk mengukur capaian kinerja pemerintah kabupaten/kota, khususnya dalam pelaksanaan urusan pertanian dan pangan.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian di tingkat kabupaten/kota turut menentukan capaian kinerja Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan.
“Capaian kabupaten/kota turut menentukan kinerja Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Karena itu, peran aktif seluruh jajaran sangat diperlukan, termasuk dalam meningkatkan serapan anggaran APBN yang administrasi dan pelaksanaannya berada di kabupaten/kota,” ujarnya.
Ia menjelaskan, realisasi anggaran daerah juga menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan alokasi anggaran pada tahun berikutnya. Karena itu, hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar perbaikan pelaksanaan program dan optimalisasi penggunaan anggaran.
Produksi Padi Kalsel Tertinggi di Regional Kalimantan
Dalam pemaparannya, Saptono menyampaikan bahwa sektor pertanian Kalimantan Selatan mencatat sejumlah capaian pada 2025.
Produksi padi Kalsel pada tahun tersebut mencapai 1.179.338 ton atau berkontribusi sebesar 45,71 persen terhadap total produksi padi regional Kalimantan. Capaian itu menempatkan Kalsel pada peringkat pertama di regional tersebut.
Tiga daerah dengan produksi padi terbesar pada 2025 adalah Kabupaten Barito Kuala sebanyak 323.182,92 ton, Kabupaten Banjar 166.000,89 ton, dan Kabupaten Tanah Laut 113.212,30 ton.
Sementara itu, produksi jagung mencapai 159.092,75 ton dan menempatkan Kalimantan Selatan pada posisi kedua di regional Kalimantan.
Meski mencatat capaian tersebut, data Kerangka Sampel Area (KSA) menunjukkan prediksi produksi padi Kalsel hingga November 2026 sebesar 1.168.020,98 ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 1.176.763 ton.
Penurunan tersebut dipengaruhi kondisi kemarau yang berdampak terhadap luas tanam dan produktivitas padi.
Kabupaten Barito Kuala diprediksi menjadi penyumbang produksi padi tertinggi dengan 323.907,49 ton gabah kering giling (GKG). Sementara itu, produksi terendah diprediksi berasal dari Kota Banjarbaru sebesar 3.019,48 ton GKG.
Adapun produksi sejumlah komoditas pertanian lainnya hingga September 2026 meliputi jagung sebanyak 84.026,03 ton, kacang tanah 645,89 ton, cabai besar 10.963,15 ton, cabai rawit 12.545,08 ton, bawang merah 175,53 ton, dan jeruk 121.776,38 ton.
Ketahanan Pangan Kalsel Peringkat Pertama Nasional
Di sektor ketahanan pangan, Kalimantan Selatan juga mencatatkan capaian dengan menempati peringkat pertama nasional berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan (IKP), dengan nilai indeks komposit 85,41.
Pada tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Tabalong menempati peringkat kedua nasional, Kabupaten Tapin peringkat ketiga, dan Kabupaten Balangan peringkat keenam.
Saptono mengajak seluruh Dinas Pertanian kabupaten/kota untuk memperkuat sinergi dan koordinasi dalam meningkatkan produksi serta memastikan program pembangunan pertanian dan ketahanan pangan berjalan sesuai target.
Ia juga meminta seluruh daerah memanfaatkan hasil evaluasi sebagai bahan pembenahan, terutama dalam pencapaian indikator kinerja dan peningkatan realisasi anggaran.
Sebagai bentuk apresiasi, Dinas Pertanian kabupaten/kota yang berhasil menunjukkan capaian kinerja baik akan diberikan penghargaan. Sementara daerah yang belum memenuhi target diharapkan menjadikan hasil evaluasi sebagai motivasi untuk meningkatkan kinerja pada periode berikutnya.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kerja sama serta komitmen seluruh pihak. Semoga melalui evaluasi ini, kinerja pembangunan pertanian dan ketahanan pangan Kalimantan Selatan dapat terus meningkat secara berkelanjutan, sehingga semakin maju dan berdaya saing,” tutupnya. (Alf)





