BANJARMASIN, dnusantarapost.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) gabungan Polri terus mempercepat proses identifikasi korban musibah KMN Virgo Transport 8 yang memasuki hari kelima pascakejadian.
Proses identifikasi menghadapi kendala fisik pada jenazah akibat proses pembusukan alami. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan struktur wajah, kerusakan sidik jari, hingga hilangnya beberapa bagian alat gerak korban.
Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan Kombes Pol dr. Muchammad Sofwan mengatakan kondisi jenazah yang ditemukan setelah hari kelima membutuhkan pemeriksaan forensik secara lebih cermat.
“Proses pembusukan alami memicu kendala utama seperti perubahan struktur wajah, rusaknya sidik jari, hingga hilangnya beberapa bagian alat gerak korban. Kendati tingkat kesulitan semakin meningkat, kami mendapat dukungan penuh dari Tim DVI Pusdokkes Polri, Polda Kalteng, Polda Jateng, serta seluruh ahli forensik se-Kalsel,” ujar Sofwan.
Sementara itu, Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol dr. Wahyu menjelaskan, tim forensik tidak lagi dapat mengandalkan pemeriksaan sidik jari karena kondisi jenazah.
Tim kemudian mengandalkan sejumlah data sekunder, antara lain ciri medis, pemeriksaan gigi, properti yang melekat pada korban, serta pengujian DNA.
“Memasuki hari ketiga dan seterusnya, pencocokan sidik jari sudah tidak memungkinkan, sehingga kami mengandalkan data sekunder serta pengujian DNA yang dikirimkan secara periodik ke laboratorium di Jakarta. Karena tes DNA membutuhkan waktu minimal lima hari, kami memohon kesabaran dari keluarga korban,” kata Wahyu.
Untuk mempercepat proses identifikasi dan penyerahan jenazah kepada keluarga, seluruh tim gabungan DVI bekerja tanpa libur, termasuk pada akhir pekan.
Wahyu mengatakan setiap kantong jenazah yang diterima langsung diperiksa pada hari yang sama untuk kemudian dicocokkan dengan data antemortem.
Upaya tersebut terus dilakukan untuk mempercepat proses identifikasi korban. Pada rilis ketujuh, Tim DVI berhasil mengidentifikasi 16 jenazah tambahan.
Proses identifikasi selanjutnya tetap dilakukan dengan mencocokkan data postmortem dan antemortem menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi masing-masing jenazah. (Alf/Vina)





