MARTAPURA, dnusantarapost.com – Ratusan pesilat dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan memadati Alun-Alun Ratu Zalecha, Martapura, Minggu (12/7/2026). Mereka ambil bagian dalam Sparing Fighter Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) yang menghadirkan tradisi Pencak Dor sebagai ajang pelestarian budaya sekaligus pencarian bibit atlet.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu mendapat apresiasi dari Ketua Umum IPSI sekaligus Ketua KONI Kabupaten Banjar, H. Irwan Bora. Menurutnya, Sparing Fighter Gasmi menjadi wadah positif untuk melahirkan pesilat-pesilat potensial.
“Ini menjadi salah satu upaya mencari bibit atlet pesilat berbakat di Kabupaten Banjar. Atas nama IPSI dan KONI, kami menyampaikan apresiasi kepada panitia yang terus konsisten menggelar kegiatan ini,” ujarnya.
Irwan mengatakan IPSI Kabupaten Banjar siap memperkuat kolaborasi agar kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda tahunan yang lebih besar. Terlebih, saat ini terdapat sekitar 28 perguruan silat yang berada di bawah naungan IPSI Kabupaten Banjar.
“Kami ingin seluruh perguruan bisa terlibat. Dengan begitu, kualitas kegiatan terus meningkat dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi,” katanya.
Ketua Pelaksana Sparing Fighter Gasmi, Zainal Abidin, menjelaskan Pencak Dor merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Pondok Pesantren Lirboyo dan memadukan teknik-teknik bela diri klasik dari berbagai perguruan di Indonesia.
Pada pelaksanaan kali ini, sekitar 20 perguruan dari Kabupaten Banjar ikut ambil bagian. Di partai utama tercatat sebanyak 50 pasang fighter bertanding, terdiri dari 38 peserta putra dan 12 peserta putri. Sementara kategori umum diikuti sekitar 100 hingga 150 peserta.
“Antusiasme peserta terus meningkat. Mereka tidak hanya berasal dari Kabupaten Banjar, tetapi juga dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan,” ungkap Zainal.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan penyelenggaraan ketiga, sedangkan kolaborasi bersama IPSI dan KONI memasuki tahun kedua.
“Harapan kami, Sparing Fighter Gasmi terus menjadi wadah pembinaan, menjaga tradisi Pencak Dor tetap hidup, sekaligus melahirkan atlet-atlet yang mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya. (tata)





