Produksi Perikanan Budidaya Tertinggi di Kalsel 2025, Kabupaten Banjar Raih Peringkat Pertama

MARTAPURA, dnusantarapost.com– Kabupaten Banjar berhasil meraih peringkat pertama sebagai daerah dengan produksi perikanan budidaya tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2025.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui penghargaan yang diberikan kepada pemerintah daerah setempat.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, Sipliansyah Hartani, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut diberikan karena Kabupaten Banjar mampu mencatatkan produksi perikanan budidaya paling besar dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Selatan.

“Produksi perikanan budidaya Kabupaten Banjar menjadi yang tertinggi di Kalimantan Selatan, sehingga pemerintah provinsi memberikan penghargaan kepada DKPP Kabupaten Banjar,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, pencapaian tersebut tidak lepas dari keberhasilan daerah dalam merealisasikan target produksi perikanan budidaya pada tahun 2025 yang hampir mencapai 100 persen dari target yang telah ditetapkan.

Ia juga menyebutkan, penghargaan ini menjadi yang pertama kali diterima Kabupaten Banjar dalam bidang produksi perikanan budidaya.

Sipliansyah menjelaskan, dua komoditas utama yang mendominasi produksi perikanan budidaya di Kabupaten Banjar adalah ikan patin dan ikan nila. Kedua jenis ikan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di luar kabupaten.

“Produksi patin dan nila menjadi yang paling tinggi. Selain untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Banjar, hasilnya juga didistribusikan ke beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Selatan hingga ke provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat,” jelasnya.

Untuk tahun 2026, DKPP Kabupaten Banjar menargetkan produksi perikanan budidaya tetap mengalami peningkatan, meskipun sebagian pembudidaya sempat terdampak banjir yang terjadi pada akhir tahun lalu.

“Kami berharap para pembudidaya yang terdampak banjir dapat kembali bangkit sehingga target produksi tahun 2026 yang cukup tinggi bisa tercapai,” pungkasnya. (nurul octaviani)

Pos terkait