Anak-Anak Banua Menjejak Jakarta: Perjuangan Haus Soccer U-10 di Liga Anak Indonesia

JAKARTA, dnusantarapost.com — Di antara ratusan pasang kaki kecil yang berlari mengejar bola di lapangan hijau ibu kota, sekelompok anak dari Banjarmasin menorehkan cerita istimewa. Mereka datang jauh-jauh dari Kota Seribu Sungai, membawa semangat dan harapan. Kini, mereka pulang membawa trofi juara tiga Liga Anak Indonesia 2025.

Mereka adalah Haus Soccer Banjarmasin U-10, bocah-bocah Banua yang tak gentar menantang tim-tim kuat dari seluruh penjuru negeri.

Langkah mereka di turnamen nasional itu tak langsung gemilang. Pertandingan perdana justru berakhir dengan kekalahan. Namun, di situlah titik balik dimulai.

“Awalnya sempat down, tapi kami semua yakin belum terlambat untuk bangkit,” kenang pelatih Indra Syafrudin, yang setia mendampingi anak-anaknya dari pinggir lapangan.

Benar saja, lima pertandingan berikutnya menjadi saksi kebangkitan. Tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan membuat Haus Soccer U-10 mengoleksi 11 poin dan lolos ke babak 8 besar.

Di perempat final, mereka bertemu lawan tangguh: FSA 28. Tapi anak-anak Banua menunjukkan keberanian dan kecerdikan bermain. Mereka menang 2-1 dan melaju ke semifinal dengan senyum lebar.

Namun, jalan menuju final ternyata bukan milik mereka. Saat menghadapi Al Furqon dari Sumatera Selatan, dominasi permainan tak cukup menyelamatkan. Serangan balik lawan terlalu tajam, dan Haus Soccer harus mengakui keunggulan lawan, kalah 0-3.

“Secara permainan kami menguasai, tapi lawan sangat efektif. Itu pelajaran penting bagi anak-anak,” ujar Indra

Kekecewaan tak bertahan lama. Di laga perebutan tempat ketiga, Haus Soccer tampil beringas menghadapi Golazo CSR dari Jambi. Mereka kembali menemukan ritme, dan mengakhiri laga dengan kemenangan 2-0.

Lebih membanggakan lagi, penyerang mereka Hafizan Ulil Ardi keluar sebagai top skor turnamen dengan 7 gol. Senyum Hafizan tak henti mengembang saat menerima medali, dan lebih dari itu—ia mengangkat semangat seluruh tim.

Yang menarik, Haus Soccer U-10 bukan sepenuhnya diisi pemain binaan sendiri. Beberapa adalah hasil kolaborasi dari sekolah sepak bola lain di Banjarmasin. Namun chemistry mereka tak perlu diragukan. Mereka bermain layaknya satu keluarga.

“Kami satukan semua pemain terbaik. Bukan soal asalnya dari mana, tapi bagaimana mereka bisa bekerja sama. Hasilnya? Mereka buktikan di lapangan,” ujar Indra.

Selain U-10, Haus Soccer juga menurunkan tim U-12. Meski belum berhasil lolos ke babak 8 besar, tim ini juga tampil cukup baik dengan 3 kemenangan dan 3 kekalahan di fase grup. Sayangnya, poin 9 belum cukup membawa mereka ke fase gugur.

Namun bagi Indra, prestasi bukan hanya tentang posisi di klasemen.

“Yang paling penting, anak-anak belajar. Mereka mendapat pengalaman bertanding, bersosialisasi, dan belajar sportif.”

Kebanggaan Banua, Harapan Sepak Bola Masa Depan

Keberhasilan Haus Soccer U-10 menjadi pengingat bahwa talenta sepak bola tidak hanya lahir di kota-kota besar. Di tanah Banua, di tepian sungai, ada anak-anak yang tak gentar bermimpi besar. Dengan pembinaan yang tepat dan kesempatan untuk tampil, mereka bisa bersinar di panggung nasional.

Jakarta mungkin sudah selesai mereka taklukkan. Tapi langkah mereka baru dimulai. Karena sejatinya, mimpi anak-anak Banua tak pernah punya garis akhir.

Pos terkait