MARTAPURA, dnusantarapost.com – Supian Noor (10), siswa kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Assalam Martapura, kini tampak lebih tenang setelah menjalani perawatan di RSUD Ratu Zalecha Martapura. Wajahnya yang semula pucat mulai kembali cerah, meski tubuhnya masih sedikit lemas.
Supian adalah salah satu dari ratusan siswa yang mengalami mual dan muntah-muntah usai mengonsumsi Makanan Bergizi (MBG) di sekolahnya pada Kamis (9/10/2025). Saat ditemui usai menjalani perawatan, Supian menceritakan bagaimana gejala itu mulai dirasakannya.
“Sayurnya asam, nasinya awalnya enak aja, tapi pas di bawah-bawah sudah mulai asam juga. Malamnya saya mulai mual, terus pagi di sekolah muntah-muntah berkali-kali,” ujarnya pelan.
Karena muntah terus di kelas, Supian akhirnya dibawa oleh guru-gurunya ke rumah sakit. Saat itu, ibunya, Siti Balqis, belum tahu kondisi anaknya.
“Saya kaget waktu dikabarin kalau Supian dibawa ke rumah sakit. Saya langsung nyusul ke sana, ternyata sudah diinfus,” ucap Balqis dengan suara bergetar.
Ia mengaku sempat panik, namun merasa sangat terbantu dengan respons cepat para guru dan petugas medis di rumah sakit.
“Alhamdulillah, pelayanannya cepat dan bagus. Guru-guru juga sigap membawa anak-anak yang sakit,” katanya.
Meski sudah sedikit lega karena kondisi putranya mulai membaik, Balqis berharap pemerintah lebih teliti lagi dalam memastikan keamanan makanan yang dibagikan kepada anak-anak.
“Program makan bergizi itu bagus, tapi tolong lebih diperhatikan kualitasnya. Kasihan anak-anak, jangan sampai kejadian kayak gini terulang lagi,” pintanya.
Sementara itu, Wakapolda Kalimantan Selatan (Kalsel) Brigjen Golkar Pangarso menyebut total korban keracunan mencapai 130 orang.
“Total seluruhnya ada 130 korban,” ujarnya kepada awak media, Jumat (10/10/2025).
Tim gabungan dari Kodim 1006/Banjar, Dinas Kesehatan, BPOM, dan DPRPKLH Banjar juga telah turun langsung ke dapur Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) di Desa Tungkaran, tempat makanan tersebut diolah, untuk memastikan proses produksi sesuai standar kebersihan. (nurul octaviani)





